Dipersatukan oleh Cinta

September 30, 2012

Tulisan ini gue ambil dari kisah yang gue tulis untuk memperingati 100 hari kepergiaan mama, istri dan pribadi istimewa yang tinggal di daerah Cimacan, Cipanas. Pengalaman hidupnya bersama suami dan keluarga sungguh membawa inspirasi dan kekuatan bagi kita semua bahwa perbedaan bisa menjadi sumber kekuatan yang abadi.Yuk sama-sama membaca dan ikut terinspirasi bersama….

—————————————

Sinar mentari pagi hadir bersama harapan baru di sebuah desa kecil pinggiran kota Jakarta. Di sudut ruangan sebuah rumah sederhana, suara tangisan bayi perempuan menandai hadirnya sebuah kehidupan baru. Pagi itu, pada 3 Juli 1952, sosok bayi mungil lahir prematur dan memberikan kebahagiaan serta harapan kepada orang di sekelilingnya, terutama untuk pasangan Oong Tedjalaksana dan Oey Marie sebagai orang tua. Berkat Tuhan yang begitu besar sungguh dapat mereka rasakan saat itu, dan mereka memberi nama bayi mungil itu: Rica Aryanti. Read the rest of this entry »

Tahan… Lepas…

September 30, 2012

Sore itu, angin kencang berhembus. Tapi gak bisa ngilangin panasnya udara yang terasa sampe tulang sumsum. Beberapa kali gue mengelap peluh. Sambil iseng nonton TV siang ini, gue sibuk dengan laptop gue dan ngerjain kerjaan yang sempat tertunda. Secangkir juice dingin juga ikut menemani, walau tetap rasa panas selalu menemani kerjaan gue saat itu.

Hari ini adalah hari pertama puasa. Walau gue nggak ikutan puasa, tapi ini jadi hari yang sungguh dimaknai dan dijalani dengan penuh semangat sama semua rekan gue yang puasa.

Gue juga bisa nahan diri lah, minimal ya gue kalo ngemil dan minum jangan di depan mereka. Karena gue nggak mau kalo mereka sebel dan menahan ludah kalo ngelihat gue nyeruput air dingin di depan mereka. Itu yang pertama dan yang paling ‘gampang dilakuin’.
Yang kedua, dan yang paling utama ya soal nahan emosi. Kalo laper dan haus mungkin masih bisa ditahan. Tapi kalo nahan emosi alias ngejaga kesabaran, nggak semua bisa loh… Makanya, sebagai seorang teman yang baik dan selalu ngejaga kerukunan dan kedamaian (cieee) gue selalu berusaha menempatkan diri dengan baik. Ini beneran loh!… Read the rest of this entry »

Dalam sebuah perhentian, kadang kita duduk sambil melihat kembali perjalanan yang telah dilalui. Ada banyak kisah, catatan, dan rencana yang selalu bermain-main dalam pikiran. Rasa syukur, kesedihan, dan harapan menjadi banyak hal yang memberi warna saat permenungan dalam sebuah perhentian.

Semua memang akan selalu menjadi warna. Tidak semuanya indah memang. Layaknya sebuah komponen warna yang tersusun dari 4 elemen warna utama (Cyan Magenta Yellow dan Black), warna-warna yang terbentuk itu pun bisa menjadi satu kesatuan lagi yang membentuk warna baru yang lebih indah. Read the rest of this entry »

Agama dan Misi Perdamaian

December 17, 2011

Ditulis oleh: Binsar A. Hutabarat

Pada tanggal 7 Agustus 2010, Reformed Center for Religion and Society (RCRS) menggelar seminar “Agama dan Misi Perdamaian,”dengan keynote speaker Dr. Stephen Tong, narasumber Prof. Dr. Paul Marshall, Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, dan Dr. Benyamin F. Intan. Dalam seminar tersebut seluruh pembicara sepakat bahwa agama sangatlah penting untuk perdamaian.

Seminar tersebut digelar dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, dan upaya untuk mencari solusi terkait banyaknya kekerasan yang membawa-bawa nama agama pada akhir-akhir ini. Tujuannya adalah bagaimana agama-agama itu bisa memberikan kontribusi positifnya pada ranah publik, khususnya dalam pembangunan bangsa sebagaimana pernah terjadi sebelumnya, di mana Indonesia pernah dijuluki sebagai negeri tempat persemaian yang subur bagi agama-agama.

Banyaknya kekerasan agama yang terjadi di Indonesia, khususnya pada era reformasi bukanlah warisan sejarah Indonesia, dan tentunya juga tidak terkait pada diri agama itu sendiri, sebaliknya itu disebabkan oleh sebab lain yang berasal dari luar diri agama itu, utamanya perebutan kekuasaan politik, yang kemudian mewujud baik berupa politisasi agama atau pun agamaisasi politik. Hadirnya perda-perda bernuansa agama sesungguhnya terkait dengan hal itu. Padahal, kedua-duanya justru merugikan agama-agama itu yang didalam dirinya melekati misi perdamaian. Read the rest of this entry »

Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo: Sigit Nugroho
Artistik: Agung Sulistiono Mabruron
Disadur dari: YogYES.COM

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, demikian nama lengkapnya, bisa dijangkau dengan mengendarai kendaraan bermotor sejauh kurang lebih 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Pemandang sawah yang hijau dan pohon serupa cemara akan menyambut anda begitu memasuki Desa Ganjuran, tempat gereja ini berdiri. Mengunjungi gereja ini, anda akan mengetahui tentang sejarah gereja dan inkulturasi Katolik dengan budaya Jawa, terakhir mendapatkan ketenangan hati.

Kompleks gereja Ganjuran mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Panti Rapih.

Pembangunan gereja yang dirancang oleh arsitek Belanda J Yh van Oyen ini adalah salah satu bentuk semangat sosial gereja (Rerum Navarum) yang dimiliki Smutzer bersaudara, yaitu semangat mencintai sesama, khususnya kesejahteraan masyarakat setempat yang kebanyakan menjadi karyawan di Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918 – 1930. Read the rest of this entry »

Ditulis oleh Dewan Asatidz

Prinsip-prinsip toleransi agama ini, yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah, telah dimiliki Islam, maka sudah selayaknya jika umat Islam turut serta aktif untuk memperjuangkan visi-visi toleransinya di khalayak masyarakat plural. Walaupun Islam telah memiliki konsep pluralisme dan kesamaan agama, maka hal itu tak berarti para muballigh —atau pendeta dan sebagainya— berhenti untuk mendakwahkan agamanya masing-masing.

PERBEDAAN umat manusia, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa serta agama dan sebagainya, merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan SWT. Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Tuhan SWT, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat 13). Read the rest of this entry »

Perbedaan pandangan, pendapat dan cara manjalani sesuatu tidak lagi bisa dihindarkan saat ini.

Tapi bagaimana kita bisa menjadikan kebenaran yang kita yakini itu menjadi indah bagi semua orang, menjadi sebuah pertanyaan yang cukup menantang!

Rendahkan hati, sederhanakan jiwa, dan dapatkan jawabannya sekarang… Dalam hati Anda…

Tuhan memberkati!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.