Pluralisme Imlek

March 22, 2010

Oleh: Jaya Suprana 

Kompas, Sabtu, 13 Februari 2010 | 05:09 WIB

Menyambut Tahun Baru Imlek awal Februari 2010, Museum Batik Danar Hadi menyelenggarakan Festival Batik Motif China Kuno berhias lampion-lampion bermotif batik. Batik Danar Hadi bekerja sama dengan Persatuan Masyarakat Surakarta juga akan menampilkan Barongsai Nusantara berjubah batik di Festival Tahun Baru China di Jalan Orchard, Singapura.

Di Perth, Australia Barat, murid-murid Prince’s Creative School, Tangerang, mempergelar-perdanakan Naga Nusantara dengan kepala bermahkota blangkon berpuncak teras Candi Borobudur bertabur batu mulia kalimantan, dada berlapis kain lurik, dan sekujur tubuh berbalut kain batik motif kawung bertata prada diperagakan dengan gaya liong kebudayaan China.

Mandiri

Karya-karya inovatif itu layak dihargai sebab di samping kreasi perdana, juga gelora semangat nasionalisme yang sejak dahulu kala mewarnai kebudayaan Nusantara dalam hal kemampuan menyerap kebudayaan asing tanpa mengorbankan kemandirian jati diri kebudayaan bangsa Indonesia sendiri! Kebudayaan Hindu memang masuk ke persada Nusantara, tetapi arsitektur ataupun ornamen candi-candi Hindu di pelataran dataran tinggi Dieng tetap berkemandirian jati diri tanpa begitu saja menjiplak candi-candi Hindu di India.

Keindahan Candi Prambanan siap duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan Kajuraho atau Brihadishvara nun jauh di India. Kedahsyatan monumental Candi Borobudur tidak tertandingi monumen kebudayaan Buddhisme di Ajanta, Ellora, Sanchi, Angkor Wat, atau di mana pun di dunia ini. Kisah Mahabharata dan Ramayana memang diserap Wayang Purwa, tetapi di bumi Nusantara berkembang mandiri jadi Arjuna Sasrabahu, Bambang Sumantri, dan Sukrasana sampai ke para tokoh punakawan yang tak ada di India.

Agama Hindu di Indonesia juga bertriwikrama menjadi agama Hindu-Bali nan tiada dua di jagat raya. Titi nada pentatonik tradisional Sunda mirip Jepang, tetapi masing-masing memiliki kedaulatan karakter tanpa saling menguasai. Kebudayaan Arab memengaruhi musik gamelan Jawa, seperti tampak pada rebab yang memang berasal dari alat musik Arab rhabab. Arab Saudi malah tidak mengenal tradisi halalbihalal pada masa Idul Fitri, atau suara beduk pertanda waktu shalat seperti di Indonesia. Demikian pula pelog, slendro, kecapi, sasando, tari seudati, saman, kecak, gambang kromong, keroncong, dangdut, reog ponorogo, bahasa Indonesia berakar pada kebudayaan asing, tetapi mampu mengembangkan diri tampil dengan jati diri kepribadian mandiri khas Indonesia yang tidak hadir di kebudayaan asing mana dan kapan pun juga.

Pluralisme

Tidak bisa diingkari, pencabutan larangan terhadap penggunaan unsur kebudayaan tradisional China mulai dari aksara sampai perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia merupakan jasa almarhum Gus Dur yang memaksa bangsa Indonesia kembali ke fitrah falsafah Bhinneka Tunggal Ika sebagai hakikat penjabaran pluralisme. Pencabutan larangan perayaan Tahun Baru Imlek bukan hasil perjuangan warga keturunan China di Indonesia sendiri, tetapi anugerah hadiah kebudayaan dan kemanusiaan dari Gus Dur.

Maka, sebagai tanda terima kasih atas hadiah Gus Dur itu, warga negara Indonesia keturunan China seharusnya bersikap di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Bukan menjunjung tinggi kebudayaan Tanah Leluhur, yaitu China, tetapi Tanah Air, yaitu Indonesia. Di daratan China sebagai lahan akar kebudayaan China sendiri, falsafah yang dijunjung tinggi ternyata juga pluralisme akibat kondisi alam beraneka ragam, dengan sendirinya hadir pula beraneka ragam bentuk dan jenis kebudayaan masing-masing daerah dan suku.

Bahkan, dalam bahasa pun, kebudayaan China berhias aneka ragam bahasa, beda satu dengan lainnya meski bersatu padu pada bahasa Mandarin yang disepakati sebagai bahasa nasional. Demikian pula cara dan bentuk perayaan Imlek tak seragam di seluruh kawasan China.

Perayaan Imlek di Lhasa beda dengan Chengdu atau Shanghai, apalagi Urumqi meski bertujuan sama: merayakan Tahun Baru menurut kalender Imlek yang semula pesta kaum petani, merayakan ketibaan musim semi pembawa berkah dan kebahagiaan baru dalam kehidupan masyarakat agraris! Apabila di China sendiri (belum terhitung Taiwan) perayaan Imlek tak dipaksa seragam, kenapa di Indonesia harus seragam dipaksa tunduk pada satu pakem belaka?

Saya yakin Gus Dur sangat setuju Imlek dirayakan dalam suasana pluralis Bhinneka Tunggal Ika tanpa mengorbankan jati diri kebudayaan bangsa dan negara Indonesia. Saya yakin Gus Dur tersenyum bahagia mendengar gong xi fa cai didendangkan dalam bahasa Indonesia dengan iringan gambang kromong.

Gus Dur pasti tergelak bangga apabila saya memberi laporan pandangan mata—akibat beliau tidak bisa melihat sendiri—bahwa sang Naga Nusantara berblangkon, sekujur tubuh berselubung batik mega mendung disanding Barongsai Nusantara berwajah barong bali berjubah tenun ikat sabu diiringi dentuman beduk bertalu-talu dikawal laskar kuda kepang menenteng lampion bermotif batik niti karawitan!

Gus Dur pasti makin bahagia apabila Tahun Baru Imlek dirayakan bukan cuma dengan pesta pora melahap abalon atau sirip ikan hiu di restoran-restoran mewah, tetapi juga ramai-ramai makan nasi tumpeng bersama anak-anak yatim piatu di panti-panti asuhan. Merdeka!

Jaya Suprana Pencinta Kebudayaan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: