Burung Berkicau

March 21, 2010

“Mintalah hati yang damai, walau dalam keadaan apa pun juga.”Anthony de Mello.

Buku Burung Berkicau gue temukan pertama kali pada tahun 1992. Dan saat gue beli sudah mencapai cetakan ke sepuluh. Anthony de Mello yang menulis buku ini merupakan seorang imam Jesuit dan dianggap cukup ‘kontroversial’ lewat tulisan-tulisannya.
————————
Wikipedia.org menulis profilnya sebagai berikut:

Anthony de Mello (lahir 4 September 1931, Bombay, India- wafat 2 Juni 1987, New York, Amerika Serikat) adalah seorang imam Yesuit dan psikoterapis yang terkenal luas karena buku-bukunya mengenai spiritualitas. Ia mengadakan banyak retret rohani dan dianggap bagi sebagian pihak sebagai seorang pembicara publik yang piawai. Ia mengunjungi banyak negara untuk belajar dan kemudian mengajar, terutama di Spanyol dan Amerika Serikat.

De Mello mendirikan sebuah pusat doa di India. Ia meninggal secara mendadak pada tahun 1987. Karya-karyanya masih dicetak hingga hari ini dan tulisan-tulisan lainnya diterbitkan setelah kematiannya.
Pada tahun 1998, beberapa opininya dikutuk oleh Kongregasi untuk Doktrin Keimanan. Kardinal Joseph Ratzinger, yang nantinya menjadi Paus Benediktus XVI, menulis bagi kongregasi ini:

“Namun telah terlihat di kalimat-kalimat tertentu dalam karya-karya awalnya dan, dalam jumlah yang lebih besar, dalam terbitan-terbitan selanjutnya, orang bisa memperhatikan sebuah sikap yang menjauhi secara progresif dari isi-isi penting iman Kristiani … Berdasarkan laporan saat ini, dengan tujuan untuk melindungi kebaikan umat Kristiani, kongregasi ini menyatakan bahwa posisi-posisi yang disebutkan di atas sebagai hal-hal yang tidak sejalan dengan iman Katolik dan bisa menyebabkan kerusakan (iman) yang parah.’

Paradigmanya yang cukup kontroversial bagi dogma Katolik sebagian besar karena kebanyakan idenya terpengaruh oleh Ajahn Chah – yang, banyak orang menyebutkan, seperti guru baginya. Terlepas dari kutukan pihak Gereja, karya-karyanya tetap sangat terkenal terutama bagi mereka yang tertarik pada Spiritualitas Ignasian.

Beberapa edisi dari buku-bukunya semenjak itu telah diselipkan peringatan: ‘Buku-buku Romo Anthony de Mello ditulis dalam sebuah konteks multi-religius untuk membantu pengikut agama lainnya, kaum agnostik dan ateis dalam usaha pencarian spiritual mereka, dan buku-buku ini tidak dimaksudkan oleh penulis sebagai buku panduan umat Katolik dalam doktrin maupun dogma Kristen.’ Walaupun demikian, tulisan-tulisannya tetap tersedia di beberapa toko-toko buku Katolik.
———————–
Buku Burung Berkicau adalah salah satu buku yang ‘membentuk ‘ bagaimana cara berpikir diri gue tentang Tuhan, kebenaran, dan iman. Tiga hal yang mungkin udah bikin males untuk membahasnya. Namun lewat Burung Berkicau, gue diajak untuk memahaminya secara sederhana, dan di sini gue melihatnya dari pribadi gue sendiri, secara bebas, jujur, dan hati yang bebas.

Gue ‘menemukan’ Tuhan dalam buku ini secara lebih intim, tanpa harus memandangNya sebagai sosok yang jauh dan ‘tak terjangkau’. Tuhan adalah kasih, dan kasihnya harus dipahami secara jujur. Sama halnya dengan kebenaran dan iman. Dua hal yang bisa gue mengerti lewat kisah-kisah sederhana yang sangat menginspirasi dalam buku ini. Salah satunya yang lewat sebuah tulisan yang ada di buku itu:

Rumusan

Seorang mistik pulang dari padang gurun. ‘Katakanlah, seperti apakah Tuhan itu!’ tanya orang-orang mendesak.

Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata apa yang dialaminya dalam lubuk hatinya yang paling dalam? Mungkinkah mengungkapkan Yang Mahabesar dalam kata-kata manusiawi?

Akhirnya ia memberi mereka sebuah rumusan – begitu kurang tepat dan serampangan! – dengan harapan bahwa beberapa dari antara mereka mungkin akan tertarik untuk mencari sendiri apa yang dialaminya.

Mereka berpegang kuat pada rumusan itu. Mereka mengangkatnya menjadi naskah suci. Mereka memaksakannya kepada setiap orang sebagai kepercayaan suci. Mereka bersusah-payah menyebarkannya di negeri-negeri asing. Bahkan ada yang mengorbankan nyawanya demi rumusan itu.

Orang mistik itu pun menjadi sedih. Mungkin lebih baik, seandainya dulu dia tidak pernah berbicara.
—————————————–
Burung Berkicau menjadi buku yang menggugah, dan seringkali dianggap menyesatkan. Tapi memang Anthony de Mello sudah menekankan dari awal, bahwa kita bebas menjadi diri kita sendiri dalam memahami setiap tulisannya. Apapun akhirnya kesimpulan yang kita miliki terhadap buah pemikirannya lewat buku ini, adalah sebuah bentuk kebebasan pribadi.
Dan gue memilih untuk menjadi pribadi yang bebas juga dalam memahami buku ini.

Lebih jauh tentang isi dari buku Burung Berkicau: http://media.isnet.org/sufi/Mello/Burung/index.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: