Emha: Ada Apa dengan Pluralisme?

March 21, 2010

Kompas, March 4, 2007 at 3:49 am

Malam itu malam Minggu. Sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus dari Masjid Cut Meutia. Jemaah yang berkumpul di sekitar panggung setelah shalat tarawih terdiam. Kemudian terdengar
syair, “Sholatullah salamullah/ ‘Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah
salamullah/ Sholatullah salamullah/ ‘Ala yaasin Habibillah/ ‘Ala
yaasin Habibillah…”

Itulah shalawat yang dilantunkan dengan merdu oleh budayawan Emha
Ainun Nadjib (53) yang akrab disapa Cak Nun. Dalam busana serba
putih, ia bernyanyi dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik
gamelan kontemporer Kiai Kanjeng. Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan.

“Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi,
saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak
jemaah masjid.

Begitulah salah satu cara Cak Nun merombak cara pikir masyarakat
mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu
(14/10) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam
berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul,
menyegarkan hati dan pikiran.

Salah satu hal yang sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama
komunitasnya adalah mengenai pluralisme. “Ada apa dengan pluralisme?”
katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada
masalah dengan pluralisme.

“Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup
rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha
yang selalu melihat mata lawan bicaranya dengan pandangan tegas dan
berani.

Dengan mantap dia menyatakan mendukung pluralisme. Cak Nun menerima perbedaan agama dan budaya. Namun, ia melihat ada kesalahan pemahaman mengenai pluralisme.

“Pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, itu bersemangat.

Berdakwah

Dalam berbagai forum yang menghadirkan dirinya bersama Kiai Kanjeng,
pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun
yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep
yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.

Suami Novia Kolopaking itu memang selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi.

“Sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk
berdakwah. Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan
kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai
komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah.

“Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus
dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya
sambil bergegas naik ke panggung untuk melayani jemaah Masjid Cut
Meutia. (AB10)

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/19/lebaran/3042781.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: