Kelesuan Ekonomi Memicu Separatisme

March 21, 2010

Kompas, Senin, 18 Januari 2010 | 03:00 WIB

Perekonomian Yaman yang rapuh membuat bibit-bibit ekstremisme dan gerakan perpecahan tumbuh subur di selatan serta Shiite di utara.

Ekonomi Yaman merupakan salah satu dari yang termiskin di muka bumi ini. Seolah belum cukup, negara miskin itu masih didera oleh korupsi, ketidakadilan sosial, dan penurunan pendapatan dari minyak yang merupakan 70 persen dari total pendapatan negara.

”Perekonomian Yaman yang memburuk merupakan salah satu pendorong berbagai kejadian di negara itu, termasuk meluasnya Al Qaeda,” ujar Mohammad al-Muthaimi, profesor ekonomi pada Universitas Sana’a.

Dia mengatakan, pasar terorisme dan ekstremisme di Yaman berkembang seiring dengan jaringan Al Qaeda yang menarik pemuda putus asa dan pengangguran. ”Sebanyak 65 persen orang muda di Yaman tidak memiliki kesempatan bekerja dan organisasi ekstremis mengeksploitasi kesempatan itu untuk merekrut mereka dengan menjanjikan uang,” katanya lagi.

Tingkat pengangguran di Yaman sekitar 6,5 juta orang, naik 34 persen. Sementara pendapatan per kapita tetap merupakan yang terkecil di kawasan, hanya 1.000 dollar AS. Sementara di Qatar, pendapatan per kapita 70.000 dollar AS.

Dalam laporan mengenai Pembangunan Manusia Arab Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2008 disebutkan, kemiskinan berdampak pada 59 persen rakyat Yaman yang jumlahnya 24 juta orang. Menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF) dan pemerintah, 45,2 persen rakyat Yaman berada di bawah garis kemiskinan.

”Penurunan ekonomi jelas berkontribusi terhadap meningkatnya kekuatan Al Qaeda dan gerakan pemberontak. Korupsi merupakan masalah lain. Kedua faktor ini membuat bantuan asing dan investasi sulit masuk ke Yaman. Ketidakadilan di Yaman dan pertikaian internal juga membantu meluasnya Al Qaeda di Yaman setelah mereka tertekan di Afganistan dan Pakistan,” ujar analis Saudi Anwar Eshki.

Turunnya pendapatan dari minyak juga ikut memengaruhi semua kondisi dari sisi ekonomi, finansial, dan keamanan. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan sangat kondusif untuk penyebaran ide-ide ekstremis serta meningkatkan aksi kriminal dan terorisme,” ujar Kepala Kantor Kepresidenan dan Ketua Biro Keamanan Nasional Yaman Ali Muhammad al-Ainisi.

Produksi minyak Yaman menurun dari 500.000 barrel per hari pada tahun 2000 menjadi kurang dari 300.000 barrel per hari saat ini. Selain itu, harga minyak yang sempat mencapai 147 dollar AS pada tahun 2008 juga terus menurun. Menurut laporan IMF, negara itu juga akan mengalami kekurangan cadangan minyak dalam 10-12 tahun karena tidak ada penemuan ladang baru.

Dimulainya ekspor gas alam cair pada November tahun lalu dirayakan oleh rakyat Yaman. Proyek seharga 4,5 miliar dollar AS itu diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian dan menghasilkan antara 30 miliar sampai 40 miliar dollar AS dalam 25 tahun ke depan. Akan tetapi, IMF mengatakan hal itu hanya akan mengompensasikan sebagian dari penurunan pendapatan minyak.

”Yaman saat ini menghadapi tantangan baru dan mau tak mau harus melakukan transisi menjadi ekonomi nonminyak, menciptakan pertumbuhan nonhidrokarbon ekonomi, meyakinkan kelangsungan fiskal serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran,” demikian pernyataan IMF.

Tantangan lainnya adalah inflasi yang tinggi. Walaupun saat ini sudah turun dari 20 persen, inflasi kini sebesar 10 persen. Selain itu, Yaman juga mengalami defisit anggaran kronis.

(AFP/joe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: