Polemik Pluralisme

March 21, 2010

Polemik akan pengertian dan makna dari pluralisme memang sudah berseteru dari zaman baheula. Awalnya tidak ada niat untuk mengupas masalah ini, tetapi setelah ada comment dalam blog saya yang menyebutkan pengertian “pluralisme” yang berbeda dari yang saya pelajari maka saya berinisiatif untuk memaparkan masalah ini.

Dalam KBBI “pluralisme” berasal dari kata “plural” yang artinya jamak;lebih dari satu. Sedangkan beberapa kata yang terkait dengan hal itu adalah :

Pluralis : jumlah yang menunjukkan lebih dari satu,atau lebih dr dua dl bahan yang mempunyai dualis.

Pluralistis : banyak macam; bersifat majemuk.

Sedangkan dalam KBBI pengertian dari pluralisme adalah :

Keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sisitem sosial dan politiknya

Namun jika kita kaitkan masalah tersebut dalam konteks keberagaman agama maka akan berbeda dari pengetian diatas.berikut adalah beberapa artikel yang berkaitan dengan hal tersebut.

Polemik pluralisme di Indonesia

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism.

Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.” Atau dalam bahasa Indonesia : “Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).”

Polemik
Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya yaitu pluralism sehingga memiliki arti :
* pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial kultural
* pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama
* pluralisme digunakan sebagai alasan untuk merubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain

Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris. Dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak.

Pertentangan yang terjadi semakin membingungkan karena munculnya kerancuan bahasa. Sebagaimana seorang mengucapkan pluralism dalam arti non asimilasi akan bingung jika bertemu dengan kata pluralisme dalam arti asimilasi. Sudah semestinya muncul pelurusan pendapat agar tidak timbul kerancuan.

Catatan

Belakangan, muncul fatwa dari MUI yang melarang pluralisme sebagai respons atas pemahaman yang tidak semestinya itu. Dalam fatwa tersebut, MUI menggunakan sebutan pluralisme agama (sebagai obyek persoalan yang ditanggapi) dalam arti “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”. Kalau pengertian pluralisme agama semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan dengan ajaran agama Islam [1].

Bagi mereka yang mendefinisikan pluralism – non asimilasi, hal ini di-salah-paham-i sebagai pelarangan terhadap pemahaman mereka, dan dianggap sebagai suatu kemunduran kehidupan berbangsa. Keseragaman memang bukan suatu pilihan yang baik bagi masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, bermacam ras, agama dan sebagainya. Sementara di sisi lain bagi penganut definisi pluralisme – asimilasi, pelarangan ini berarti pukulan bagi ide yang mereka kembangkan. Ide mereka untuk mencampurkan ajaran yang berbeda menjadi tertahan perkembangannya.

Kristalisasi polemik

Dengan tingkat pendidikan yang kurang baik, sudah bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan penduduk indonesia kurang kritis dalam menangani suatu informasi. Sebuah kata yang masih rancu pun menjadi polemik karena belum adanya kemauan untuk mengkaji lebih dalam. Emosi dan perasaan tersinggung seringkali melapisi aroma debat antar tiga pihak yaitu :
1. penganut pluralisme dalam arti asimilasi
2. penganut pluralism dalam arti non asimilasi
3. penganut anti-pluralisme (yang sebenarnya setuju dengan pluralism dalam arti non-asimilasi)

http://rasdidin.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: