Tantangan Pluralisme Berat

March 21, 2010

Selasa, 5 Januari 2010 | 03:14 WIB

Jakarta, Kompas – Meninggalnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan pluralisme bangsa membuat upaya untuk terus mengampanyekan pluralisme ke depan menjadi berat. Butuh keberanian dari kader-kader Gus Dur dan para pihak yang peduli dengan pluralisme untuk terus menyebarkan semangat pluralisme demi tercapainya keadilan.

Peneliti The Wahid Institute, Rumadi, di Jakarta, Senin (4/1), mengatakan, semua eksponen yang memperjuangkan pluralisme juga perlu mengoordinasikan kekuatan mereka agar intensi perjuangan pluralisme tidak mengendur.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, pluralisme yang diperjuangkan NU bagi bangsa Indonesia adalah pluralisme dari perspektif sosiologis, bukan pluralisme dalam perspektif teologis. Pluralisme teologis justru merugikan teologi semua agama karena hanya akan menghasilkan keimanan dan keyakinan beragama yang campur aduk.

Hasyim juga yakin campur aduknya keimanan itu pasti akan ditolak oleh semua agama karena dianggap sebagai bagian dari proses sekularisasi dan liberalisasi yang ditolak semua agama.

”Yang diperlukan pengakuan atas eksistensi setiap agama yang independen dan setingkat dengan kooperasi atau toleransi antarumat beragama,” ujarnya.

Usulkan Edi Mancoro

Secara terpisah, lebih dari 100 kiai, suster, pastor, pendeta, serta tokoh masyarakat dari berbagai etnis berkumpul di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin malam, untuk mendoakan arwah Gus Dur. Selain itu, mereka juga berdiskusi mengenai pemikiran Gus Dur dan langkah konkret untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Edi Mancoro diasuh KH Mahfudz Ridwan, sahabat Gus Dur semasa menuntut ilmu di Baghdad, Irak, pada pertengahan 1960 hingga awal 1970.

Doa bersama lintas agama itu dihadiri sejumlah tokoh, seperti Romo V Kirdjito dari Magelang serta Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Pendeta John Titaley. Hadir pula pemuka agama Buddha dan Hindu. Acara dimulai sekitar pukul 20.00, diawali dengan doa yang dipimpin bergantian oleh para tokoh agama yang hadir.

Sebelum peringatan tujuh hari meninggalnya Gus Dur itu dimulai, KH Mahfudz Ridwan sempat bercerita soal sosok Gus Dur yang dikenalnya kepada wartawan.

Mahfudz Ridwan juga bercerita bahwa ponpes yang diasuhnya berasal dari usulan Gus Dur. Ponpes itu kerap menerima ”santri” titipan selama beberapa hari dari agama lain.

”Mas Dur itu dari dahulu enggak kenal duit. Sewaktu di Baghdad juga saya yang mengurusi keperluannya Mas Dur. Begitu juga waktu jadi Presiden, enggak kenal uang,” tutur Mahfudz.(gal/mzw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: