Mati Dua Tumbuh Dua Ribu! (Mengenang Sayed Tantawi & Gus Dur)

March 22, 2010

Selamat jalan Syekh Mohamed Sayed Tantawi dan Gusdur: Pejuang Sejati Kebenaran dan Kedamaian lewat Toleransi Agama

Belum lama pejuang GusDur dipanggil Tuhan, Syekh Mohamed Sayed Tantawi hari Rabu (10/3/2010) pun memenuhi panggilan Sang Pencipta.  Kedua tokoh ini nggak gue kenal secara pribadi, yang gue kenal hanya sedikit dari banyak kiprahnya untuk menjaga sikap-sikap toleransi demi sebuah bentuk kedamaian dalam kehidupan beragama.

Keduanya boleh dibilang adalah orang besar. Gus Dur yang pernah jadi presiden RI dikenal sebagai seorang ulama besar. Begitu juga Sayed Tantawi yang merupakan Imam Besar sekaligus Ketua Lembaga Pendidikan Al-Azhar Cairo Mesir.

Keduanya menunjukkan keberanian dalam mengungkapkan ide-idenya yang seringkali menjadi banyak kontroversi. Tapi keduanya tetap berkeyakinan bahwa agama yang mereka anut akan tetap bisa memberi rahmat bagi semesta tanpa harus terpaku pada aturan-aturan yang menjauhkan dari sebuah sikap toleransi.

_______________________________________

Nilai agama tidak akan pernah bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Dan hal itu sunggu ditunjukkan oleh sikap dan perbuatan kedua tokoh ini. ‘Keberanian’ sikap dan perbuatan mereka seringkali harus berlawanan dengan persepsi dari banyak orang, bahkan dari sesama umat seiman.  Tapi mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan, sama sekali tidak mengurangi kesakralan dan kebenaran iman yang mereka yakini.

Gue sendiri, walau memiliki keyakinan yang berbeda, tetap mengagumi kedua tokoh ini. Mereka justru yang sungguh sanggup membuktikan bahwa iman yang mereka yakini sungguh bisa memberi rahmat bagi semesta, tanpa lewat kekerasan atau intimidasi. Dan itu sunggu terbukti!

Kedekatan GusDur dengan berbagai tokoh lintas agama, perhatian dan penghormatan yang besar kepada pemeluk agama lain, sampai keberanian berjuang membela kaum yang berbeda  menjadi sebuah sikap seorang pahlawan sejati. Begitu juga pembelaan Tantawi dan sikapnya terhadap pemakaian cadar, perang Lebanon Israel, Makna Jihad, silaturahmi dengan pemeluk agama yahudi, membuatnya menjadi seseorang yang memiliki pemikiran dan hati seluas samudra. Dan keduanya juga boleh dibilang menguasai dan paham betul ajaran agama yang mereka yakini, tapi justru bisa menjalaninya dengan sangat toleran dengan sesama yang berbeda sekalipun. Jauh banget sama yang hanya mengandalkan kekerasan untuk meyakini dunia bahwa merekalah yang paling paham soal agama. Ilmu padi berlaku di sini. Makin berisi makin rendah hati…

Gue percaya akan banyak lagi tokoh-tokoh seperti Sayed Tantawi dan Gus Dur. Dan memang kedamaian di bumi harus terus diperjuangkan dengan cara yang santun namun dengan sikap yang teguh dalam menancapkan prinsip-prinsip kerukunan dan toleransi. Dimanapun dan kapanpun.

Damai di Bumi, Damai di Hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: