Melasti Awali Ritual Hari Raya Nyepi

March 22, 2010

Kompas, Minggu, 14 Maret 2010 | 03:08 WIB

Denpasar, Kompas – Upacara Melasti atau Melis, Mekiyis, Sabtu (13/3), mengawali ritual perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932 yang akan jatuh pada Selasa pekan depan.

Umat Hindu di Bali berduyun-duyun mendatangi laut dan sumber air lainnya untuk nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha, yaitu menghanyutkan segala kotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, dan sumber lainnya sebagai simbol penyucian diri, batin, dengan memohon kepada Sang Sumber Kehidupan.

Warga Denpasar dan Kabupaten Badung bagian utara, misalnya, sejak pagi secara bergantian melakukan upacara Melasti di Pantai Padanggalak dan Pantai Sanur yang terletak di pesisir timur Kota Denpasar. Sementara warga Badung bagian selatan melaksanakan hal serupa di Pantai Kuta.

Dengan berpakaian mayoritas warna putih, mereka berduyun-duyun mendatangi kawasan pantai dengan mengendarai sepeda motor, mobil, dan truk terbuka.

Kepala Pecalang (pengaman desa) Tonja, Denpasar Timur, Made Sumerta, mengungkapkan, setiap tahun desanya melaksanakan ritual Melasti di Padanggalak bersama belasan desa lain di Denpasar dan Badung bagian utara. ”Jadwalnya sudah ditentukan melalui forum khusus antardesa sehingga tidak terjadi penumpukan (di tempat itu). Koordinasi juga dilakukan dengan kepolisian sehingga kelancaran lalu lintas ataupun keamanan selama upacara terjaga,” katanya.

Kemarin juga merupakan hari raya Tumpek Landep yang selalu jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Landep. Pada Tumpek Landep, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi yang diyakini telah menganugerahkan kecerdasan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan teknologi atau benda-benda yang dapat mempermudah dan memperlancar hidup. Dalam konteks saat ini, hal itu antara lain terwujud dalam benda, seperti sepeda motor, mobil, mesin, dan komputer.

Lomba ogoh-ogoh

Selain Melasti, ada tiga upacara lain terkait Nyepi, yakni Tawur Kesanga, Yoga Samadhi, dan Ngembak Geni. Tawur Kesanga diisi dengan prosesi mengusung ogoh-ogoh (patung raksasa yang terbuat dari kertas) hingga malam sebelum Nyepi tiba atau disebut malam pengerupukan. Di pengujung acara itu ogoh-ogoh dibakar sebagai perwujudan pengusiran roh jahat.

Yoga Samadhi terwujud pada empat hal, yakni pantang menyalakan api, menghentikan aktivitas kerja, pantang menghibur diri, dan pantang bepergian.

Sementara Ngembak Geni diisi maaf-maafan dengan handai tolan dan tetangga terdekat.

Tahun lalu, arak-arakan ogoh-ogoh dilarang karena bersamaan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Pertimbangannya, antara lain, untuk keamanan. Tahun ini, Pemerintah Kota Denpasar rencananya akan menggelar cipta karya ogoh-ogoh yang diikuti organisasi pemuda-pemudi di masing-masing desa.

Humas Pemerintah Kota Denpasar Erwin Suryadharma mengatakan, final acara cipta karya ogoh-ogoh akan digelar besok dan dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Semua ogoh-ogoh selanjutnya diarak pada malam sebelum Nyepi tiba.(BEN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: