Pertikaian Lukai Nurani

March 22, 2010

Oleh: Pascal S Bin Saju (Kompas, 21 Maret 2010)

”Takkan ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama. Takkan ada perdamaian di antara agama-agama tanpa ada dialog lintas agama”. (Hans Küng)

Hans Küng, seorang pastor dan teolog Katolik, mendaratkan kata-katanya itu pada pembukaan pameran agama-agama dunia di Universitas Santa Clara, California, AS, pada 31 Agustus 2005. Pameran diselenggarakan oleh Stiftung Weltethos (Yayasan Etika Global) yang dia pimpin.

Küng mengatakan, dialog dengan agama lain kini tidak lagi hanya urusan teoretis-akademis semata, tetapi telah memiliki implikasi politik yang dahsyat.

Dia mempelajarinya khusus dalam konteks konflik Israel-Palestina, tentu tanpa mengabaikan konflik di kawasan lain.

Menurut Küng, dialog lintas agama adalah jawaban tepat atas berbagai problem dewasa ini. Dalam konteks itulah dia merumuskan aksioma-aksiomanya dalam slogan, ”Takkan ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama. Takkan ada perdamaian di antara agama-agama tanpa dialog antaragama”.

Kata-kata Küng di forum internasional telah turut mengilhami pemimpin agama, bangsa, dan akademisi ketika mereka bergulat mencari jalan keluar atas berbagai konflik ”agama” di tingkat domestik dan internasional.

Masalahnya, sejak serangan teroris, 11 September 2001, terhadap menara kembar World Trade Center, New York, AS, konflik ”agama” sepertinya semakin tajam.

Sekarang sudah bangkit kesadaran global akan perdamaian dunia melalui jalur agama. Wujudnya, sudah ada banyak kegiatan dialog lintas agama (interfaith) di fora internasional. Terakhir adalah dialog di tataran negara nonblok, termasuk Indonesia, di Manila, Filipina, pada 16-18 Maret 2010.

Pertemuan bertajuk Special Non-aligned Movement Ministerial Meeting (SNAMMM) on Interfaith Dialogue and Cooperation for Peace and Development diikuti ratusan menteri, pejabat tinggi, dan tokoh agama, serta akademisi dari 118 negara anggota. Delegasi Indonesia dipimpin Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Serangan teroris pada 11 September 2001, yang dikenal dengan sebutan nine eleven, menjadi puncak, juga awal babak baru, dari konflik agama. Di Indonesia, pertikaian ”agama” pernah terjadi di Poso dan Ambon. Bersamaan dengan itu muncul pula fenomena ”islamofobia” akibat digunakannya tema ”Islam” dalam teror oleh kelompok tertentu.

Namun, tidak sedikit tokoh Muslim yang mengkritik kelompok yang memakai agama untuk menjustifikasi aksi teror.

Hadirnya pasukan AS dan sekutunya memburu teroris atau memberangus terorisme pun dicap memerangi Islam. Tidak heran, kebijakan AS memerangi teroris melalui proses unilateralisme dengan melakukan invasi ke Afganistan dan Irak dinilai sebagai ”perang Barat melawan Islam”.

Persekutuan aneh

Agama adalah faktor fundamental semua urusan manusia. Namun, hal itu pun bergantung pada kuatnya kedalaman iman, sikap, dan motivasi pemeluknya. Agama secara umum disebut sebagai sumber perdamaian dan belas kasih, tetapi sering kali ada ”persekutuan yang aneh” antara agama dan kekerasan.

Kasus Irlandia Utara, Palestina-Israel, Afganistan, Irak, Somalia, Sudan, Nigeria, Filipina, India, dan konflik-konflik yang pernah hadir di Indonesia menyiratkan hal itu.

Terorisme, misalnya, menjadi biang utama kesalahpahaman antara dunia Islam dan Barat atau Kristen. Bahkan, terorisme dipandang identik sebagai konflik antara Islam dan Barat atau Kristen.

Menlu Afganistan Zalma Rassoul mengatakan, kesalahpahaman itu harus diluruskan dan dijernihkan.

Terorisme jangan dipersepsikan sebagai tindakan Islam. ”Islam, agama penebar perdamaian dan hubungan baik, sering diidentikkan dengan kekerasan dan ekstremisme. Kebijakan melarang pembangunan minaret di Swiss dan pakaian khas (Islam) di Uni Eropa memperuncing keadaan,” kata Menlu Pakistan Nawabzada Malik.

Semua negara, bangsa, agama, dan masyarakat madani harus bekerja sama memerangi terorisme. Aksi teroris telah mengacaukan keamanan, melukai kemanusiaan, dan menodai perdamaian. ”Pertikaian ’agama’ telah melukai kemanusiaan para pemeluk berbagai agama di seluruh dunia,” kata Rassoul.

Dia mengajak semua negara Islam untuk menjelaskan kepada dunia Barat atau Kristen melalui dialog yang terus-menerus demi perdamaian dan pembangunan. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi islamofobia dan tidak ada lagi persepsi bahwa terorisme atau kekerasan ”agama” sebagai konflik dunia Islam dan Barat.

Ketua Majelis Umum PBB Ali Abdussalam Treki mengatakan, dialog, saling pengertian, dan kebersamaan antara semua ras, agama, dan budaya adalah kunci membangun dunia. ”Kunci untuk membangun sebuah sistem multilateral internasional yang berdasarkan rasa saling menghargai,” katanya.

Pada saat setiap ketua delegasi negara nonblok diberikan kesempatan menyampaikan pernyataan selama 5-7 menit berbicara di depan forum SNAMMM, mereka masing-masing menyebutkan bahwa dialog telah dilakukan di tingkat lokal. Dialog seperti itu agar terus dikembangkan di tingkat regional dan internasional.

Catatan penting yang perlu diingat bahwa dialog bukanlah tujuan, tetapi bagian dari proses menuju perdamaian. Romo Ignatius Ismartono dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Abdul Mu’ti dari Muhammadiyah (Indonesia) memberikan kesaksian tentang keberhasilan Indonesia membangun dialog lintas agama dan program aksinya.

Misalnya, kerja sama Islam-Kristen dalam perdamaian telah melahirkan perjanjian damai Malino. Dalam penanganan soal bencana alam Aceh, Padang, dan Yogyakarta, misalnya, telah ada kerja sama tokoh-tokoh lintas agama.

Marty Natalegawa mengatakan, dialog lintas agama akan menjadi fitur tetap diplomasi RI. Pemerintah menjadi fasilitator aktif bagi dialog lintas agama, dengan menonjolkan peran masyarakat madani, termasuk pemimpin agama. Indonesia menolak mengaitkan terorisme dengan agama.

Dia mengatakan, sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia akan tampil terus di forum internasional untuk menjelaskan bahwa toleransi, kebersamaan, dan persaudaraan sudah lama tumbuh di Indonesia. Nila-nilai itu sudah dihayati dan mekar selalu di berbagai pelosok negeri.

Hal itu juga ditegaskan dalam Deklarasi Manila. Agama harus menumbuhkan perdamaian, bukan pertikaian. Pemimpin agama harus menjadi pelopor, bukan penghasut. Promosi dialog lintas agama untuk perdamaian dan pembangunan tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga tokoh agama yang mengajak sipil untuk bergerak bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: