Borobudur dan Buddha, Refleksi Hidup Damai

March 24, 2010

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/01/humaniora/3282626.htm
====================

Jakarta, Kompas – Candi Borobudur sebagai bagian dari agama Buddha
dapat menjadi refleksi dalam membangun kehidupan yang damai.

“Dengan melongok ajaran lain, maka kita akan lebih mengenal agama
lain. Pengalaman itu dapat disintesiskan dengan ajaran yang dianut
dan memunculkan kesadaran baru, terutama dalam dialog antaragama,”
ujar Marselli Sumarno dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter
yang ia sutradarai, Sang Buddha Bersemanyam di Borobudur, di Bentara
Budaya Jakarta, Rabu (31/1).

Menurut Marselli, dalam pembuatan film tersebut bukan perbedaan yang
ia lihat, melainkan persatuan serta adanya pertemuan-pertemuan.
Pertemuan tersebut antara lain ajaran kasih atau welas asih yang
nyata dalam ajaran Buddha. Pertemuan lain yang diamati ialah betapa
setiap agama mempunyai praktik meditasi dengan caranya masing-masing.

“Melihat pertemuan-pertemuan tersebut, menjadi sangat penting
mengenal agama lain, terlebih lagi di tengah kerapuhan dialog
antarumat beragama,” ujar Marselli, Dekan Fakultas Film dan Televisi,
Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ).

Budayawan Mudji Sutrisno yang hadir dalam diskusi itu mengatakan,
dalam ajaran agama Buddha di Nusantara sudah terjadi
inkulturasi. “Ketika religiositas masuk ke sebuah daerah atau lokal,
maka yang muncul ialah wajah budaya,” ujarnya.

Lebih toleran

Film yang digarap Marselli ini, menurut Mudji, merangkum antara teks
suci dan kontekstualisasi isinya. Tafsiran tentang Borobudur dapat
banyak diterjemahkan.

“Agama-agama bumi cenderung lebih toleran karena mereka hidup dari
bumi dan berutang kepada bumi. Mereka menyatu dengan ekologi dan
alam. Sementara dalam agama wahyu terkadang ada yang meminjam
wewenang teks kitab suci dengan tafsirannya untuk mengatakan yang
paling benar dan keinginan meniadakan yang lain,” ujarnya.

Marselli melihat Borobudur sebagai buku terbuka tentang ajaran agama
Buddha karena begitu banyak makna yang terpahat pada relief-relief
patung maupun susunan bentuk lainnya. Melalui film dokumenter yang
digarap secara puitis, Marselli ingin menyampaikan rangkuman sejarah
candi, peringatan Waisak sekaligus tentang ajaran Buddha, serta apa
yang disebut pencerahan dengan benang merah meditasi itu sendiri.
Kemasan audio visual berupa film dokumenter ini merupakan sumbangan
tafsir artistik atas ajaran Buddhisme lewat keberadaan Candi
Borobudur.

Film tersebut terutama merekam saat-saat meditasi para pemeluk
Buddha. Marselli mengatakan, selain film ini terdapat pula film
Mekarnya Agama Buddha di Indonesia, yang menceritakan sejarah agama
Buddha di Nusantara. Marselli sebelumnya membuat belasan film
dokumenter dan menyutradarai film cerita berjudul Sri pada tahun
1999. (INE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: