Kekitaan yang Luntur (kenangan Rm. YB Mangunwijaya)

March 24, 2010

February 23rd, 2010 by http://www.republikcyber.com

Pada tanggal 10 Februari 2010 yang lalu, tepat 9 tahun meninggalnya YB Mangunwijaya. Dalam kesempatan ini, saya ingin melihat kembali pemikiran-pemikiran YB Mangunwijaya yang di kenal sebagai orang multidimensional. YB Mangunwijaya bukan hanya milik orang katolik karena kebetulan dia seorang katolik dan imam, tetapi juga menjadi milik semua orang.

Di tengah-situasi bangsa yang sedang mengalami “saat-saat gelap,” saat-saat ketidakpastian dalam hidup bersama, mungkin baik kalau kita mencoba melihat seorang pribadi yang begitu concern dengan persoalan bangsa, bahkan sampai kematiannya pun orang ini masih memikirkan bagaimana masa depan anak-anak bangsa ini dapat dibantu dengan bacaan-bacaan yang bermutu lewat buku, demi keutuhan seorang pribadi manusia.

Saat ini kita sedang mengalami krisis perekat hati. Bangsa ini sedang berada dalam ambang kesulitan dalam perjalanannya. Yang ada hanya aku atau kamu, pro atau kontra, setuju atau tidak setuju, mendukung atau menolak. Tetapi, masihkah ada KITA dalam kehidupan bersama? Sepertinya KITA mulai hilang dalam kehidupan bangsa ini. Ernest Renan mengatakan bahwa proses membangsa adalah proses hasrat bersama untuk bersatu. Hasrat kita untuk bersatu kini mulai tersingkirkan dari kamus kita. Yang muncul kemudian adalah kepentinganku, egoku, kelompokku, partaiku, ambisiku untuk berkuasa, dan di luar aku tunduk, hilang kalau perlu mati. YB Mangunwijaya pernah mengatakan, kalau kita mau mengubah jagat (dunia) mesti berangkat dari diri sendiri, nanti yang lain akan menyusul dengan sendirinya.

Untuk mengubah situasi bangsa ini, mesti berangkat dari komitmen diri sendiri kemudian bersama yang lain membangun sebuah masa depan sebuah masyarakat. Tetapi itu mengandaikan sikap rendah hati, rendah hati unrtuk menerima keberbedaan dengan legawa. Keberbedaan dalam pemikiran, pandangan, keyakinan dan lain sebagainya. “Kemudian masing-masing kita memberikan perannya, fungsinya, bantuannya demi perbaikan bangsa ini. Para bijak pandai, cendikiawan membantu memberi ide, wacana, analisis demi perbaikan struktur yang lebih demokratis; yang birokrasi mengubah mentalitas dari abdi negara menjadi pelayan masyarakat; yang dipercaya untuk mengurusi hukum mesti bertindak dan menegakkan kepastian hukum; yang agamawan menginspirasikan moralitas berbangsa dan bernegara serta masing-masing anggota masyarakat saling bersolider untuk beradab membantu menjembatani jurang bodoh dan pintar; miskin-kaya; dalam gerak kemanusiaan yang lintas suku, agama, dan pengkotak-kotakan untuk perjuangan masyarakat yang terbuka, beradab, plural, adil hormat-menghormati karena sesaudara sebangsa.”(Mudji Sutrisno/KOMPAS 24/11 1998).

Kata KITA mestinya menjadi perekat untuk mencari alternatif, mencari wacana perbaikian hidup bersama. YB Mangunwijaya adalah pribadi yang senantiasa berpikir, dan bertindak dengan kerangka KEKITAAN. Ia sadar bahwa tak mungkin mengubah dunia secara sendirian, ia mesti melibatkan orang lain apapun keyakinannya, apapun pemikirannya. Ia sadar bahwa ia bukan segala-galanya. Ia adalah sebuah batu dari sekian jutaan batu yang membentuk suatu bangunan kehidupan bersama. Ia sadar bahwa pluralitas kita, sebagai bangsa tidak mungkin dilenyapkan dan dengan dalih apapun. Keberbedaan adalah sebuah realitas yang mau tidak mau mesti kita terima. Kemajemukan tidak mungkin dapat disergamkan demi jargon persatuan, sebab persatuan sendiri seperti diungkapkan oleh Berger harus dicapai lewat pluralitas.

Dari sekian pemikiran Rm. Mangun, saya ingin mengutip pemikirannya yang berhubungan dengan persoalan KITA bersama, khusunya bagi generasi muda sedang menghadapi paradigma baru bagi hari depan bangsa ini. Pekerjaan rumah yang mesti dipikirkan bersama, seperti yang dilontarkan Beliau, ketika memberikan seminar Forum Wacana Muda pada tahun 1996 di Yogyakarta. Pertama, merkonstruksi kembali RI Proklamasi 17 Agustus ‘45 menjadi negara dan masyarakat hukum yang sesungguhnya. Kedua, dihapusnya praktek-praktek pihak penguasa (kelompok-kelompok superior) serta proses pendakwaan, penggugatan yang disertai penganiayaan, ancaman senjata, intimidasi, teror serta cara-cara yang tidak manusiawi. Ketiga, membangun sikap dan mental bernegara serta menciptakan suasana kemasyarakatan yang benar-benar melaksanakan amanat UUD ‘45 yang menyangkut perlindungan segenap bangsa dalam dimensi ekonomi, sosial, dan kultural. Keempat, bagaimana membuat struktur yang tepat appropriate and workable untuk menciptakan suatu balance of power yang berfungsi optimal, sehingga sasaran dan tujuan masyarakat dan bangsa yang manusiawi, adil, beradab, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat berkesinambungan dengan damai tanpa setiap kali ada ledakan kekerasan.

Demikianlah buah-buah dari sekian pemikiran YB Mangunwijaya. Semoga gagasannya dapat menjadi pembuka wacana bagi kita sebagai usaha mencari kemungkinan-kemungkinan dalam memecahkan persoalan kita bersama menuju masyarakat yang demokratis, jujur, adil dan toleran. Mungkin idealisasi itu sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat. Dan pasti tidak sekali jadi, perlu proses dan waktu, seperti juga disadari oleh Filosof Jerman: J. Habermas: perubahan tidak dapat dipaksakan secara revolusioner melalui jalan kekerasan. Karena kalau dipaksakan dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Transformasi sosial perlu diperjuangkan melalui dialog-dialog emansipatoris. Hanya lewat jalan komunikasi, dan bukan dominasi, sebuah masyarakat demokrasi akan terwujud. (Thomas Diman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: