Persatuan, Fitrah Kehidupan Manusia

March 24, 2010

Sumber: http://www.beritaindonesia.co.id

Persatuan Indonesia harus dapat mengembangkan masyarakat yang rukun, tidak menciptakan ruang bagi terjadinya pengotakan sosial berdasar perbedaan agama, ras, dan lain-lainnya. Dalam kontek kehidupan bersama di dalam masyarakat majemuk, hubungan antar agama tidak boleh tertutup.

Syaykh Panji Gumilang mengemukakan hal itu dalam khutbah ‘Ied al-Fithri 1430 H/2009 M di Kampus Al-Zaytun pada tarikh 1 Syawal 1430 H / 20 September 2009 M bertajuk “Persatuan merupakan fitrah kehidupan manusia.”

Menurut tokoh pemangku pendidikan yang membawa obor toleransi dan perdamaian ini, masyarakat adil makmur yang dicita-citakan, harus mengakui dan menerima anggotanya, sepenuh keyakinannya sebagai manusia yang utuh, dengan kewajiban dan hak yang sama, jika masyarakat menolaknya, maka itu akan menjadi hambatan terhadap keadilan.

“Sudah tentu bahwa kebahagiaan dan kemaslahatan bangsa Indonesia akan dapat terwujud, berdasar hidup berdamai dari segi keagamaan yang terjamin, yang setiap warganya turut menyumbangkan jasanya,” ujar Panji Gumilang.

Dalam kehidupan yang majemuk, lanjut Syaykh Al-Zaytun, kita selalu berhadapan dengan sikap manusia. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah terwujudnya sikap etis dalam pergaulan dengan sesama umat manusia dengan berbagai perbedaannya. Sikap etis ini juga perlu dibiasakan melalui pembelajaran dan pendidikan tanpa henti.

Syaykh Al-Zaytun berpesan bahwa persatuan Indonesia harus terus wujud dan kuat. Maka, selaku warga bangsa yang berkiprah di arena pendidikan, dia menegaskan keikutsertaan Al-Zaytun untuk mempersiapkan tampilnya generasi produk pendidikan Indonesia yang memenuhi ciri-ciri abad ini. Syaykh Al-Zaytun menyebut ada tujuh ciri generasi produk pendidikan Al-Zaytun (Indonesia) atau tujuh ciri manusia yang berkualitas abad ini, antara lain, pemikir sistem, agen perubahan, pembaharu dan berani mengambil risiko, berkemampuan meningkatkan pelayanan, berkeupayaan mengoordinasikan banyak hal di waktu yang sama, mentor, dan mampu membangun visi bangsa.

Selengkapnya, berikut ini khutbah Syaykh Al-Zaytun Panji Gumilang pada ‘Ied al-Fithri 1430 H / 2009 M di Kampus Al-Zaytun pada tarikh 1 Syawwal 1430 H / 20 September 2009 M bertajuk “Persatuan merupakan fitrah kehidupan manusia.”

Tebarkan Kasih
Tebarkan kasih sayang kepada segenap umat manusia, tanamkan persaudaraan yang mendalam, landasi semua itu dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan cinta negara.

Mempertahankan hidup dan kehidupan adalah hak paling utama bagi umat manusia. Karenanya umat manusia selalu bergerak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan untuk kelangsungan hidup itu.

Kemudian secara detil umat manusia bergerak mengembangkan diri dalam memenuhi keperluan dasarnya, melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraannya.

Secara fitrah pembawaan, manusia bergerak mewujudkan dan membangun suatu masyarakat, bangsa dan negara, oleh itu manusia selalu berketergantungan (interdependen) satu dengan lainnya. Sesungguhnya fitrah manusia tak dapat menghindar dari hidup dalam persatuan.

Proses Persatuan
Persatuan, selalunya diawali dengan langkah awal = bersatu, yakni berkumpul bergabung menjadi satu, sepakat seia sekata, dan daripadanya berproses wujud persatuan, yakni gabungan, ikatan, kumpulan beberapa bagian yang sudah bersatu itu.

Wadah persatuan yang dapat menghimpun segala aktivitasnya adalah negara. Karena negara merupakan organisasi suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat, karena memiliki lembaga politik, pemerintahan yang efektif, kesatuan politik, kedaulatan, dan tujuan nasional.

Pemilik wadah persatuan yang berwujud negara itu adalah warga negara, yaitu suatu bangsa yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga dari negaranya itu.

Karunia Ilahi
Karunia besar telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita, berupa negara dan kebangsaan, yakni Indonesia, maka kita berkewajiban sekaligus berkepentingan mendhahir wujudkan Persatuan Indonesia itu.

Persatuan Indonesia yang segenap warga negaranya berkedudukan sama di dalam hukum dan pemerintahan, dan berkewajiban sama dalam menjunjung hukum dan pemerintahan negara tanpa kecuali.

Persatuan Indonesia yang selalu diupayakan untuk membela tujuan bersama (yang sama) menemukan sesuatu bagi kehidupan bersama bangsa Indonesia, yakni keadilan dan kemakmuran serta kedamaian.
Karunia besar berupa kebangsaan, yakni bangsa yang multikultural namun menyatu dalam persatuan, harus selalu dijadikan landasan membangun budaya Indonesia.

Dimana budaya itu sendiri bersifat dinamis dan tidak statis, mencakup keseluruhan gaya hidup, agama, teknologi, kesusasteraan, dan hasil kesenian bangsa, karenanya manusia terikat oleh kebudayaannya (suigeneris).

Mengenai semua itu harus disadari bahwa kepelbagaian kebudayaan itu mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman kultur manusia Indonesia.

Membangun budaya dalam bingkai Persatuan Indonesia yang majemuk, dan multikultural itu, harus selalu mengutamakan nilai dan praktik hidup bersama, pengenalan melalui pendidikan sejak dini, sebab hidup bersama dalam lingkungan masyarakat majemuk harus dituntun oleh pembelajaran yang terencana.

Agama-agama dalam Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia harus dapat mengembangkan masyarakat yang rukun, tidak menciptakan ruang bagi terjadinya pengotakan sosial berdasar perbedaan agama, ras, dan lain-lainnya. Dalam kontek kehidupan bersama di dalam masyarakat majemuk, hubungan antar agama tidak boleh tertutup.

Masyarakat adil makmur yang dicita-citakan, harus mengakui dan menerima anggotanya, sepenuh keyakinannya sebagai manusia yang utuh, dengan kewajiban dan hak yang sama, jika masyarakat menolaknya, maka itu akan menjadi hambatan terhadap keadilan. Sudah tentu bahwa kebahagiaan dan kemaslahatan bangsa Indonesia akan dapat terwujud, berdasar hidup berdamai dari segi keagamaan yang terjamin, yang setiap warganya turut menyumbangkan jasanya.

Dalam kehidupan yang majemuk, kita selalu berhadapan dengan sikap manusia. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah terwujudnya sikap etis dalam pergaulan dengan sesama umat manusia dengan berbagai perbedaannya. Sikap etis ini juga perlu dibiasakan melalui pembelajaran dan pendidikan tanpa henti.

Agama akan menjadi kaya makna, dan berpengaruh signifikan dalam kehidupan umat manusia, jika pemeluknya selalu cenderung kepada aspek kemanusiaan dan tidak hanya aspek teologis. Dalam berbagai problem sosial, peran agama dapat menyumbangkan pemecahan masalah menuju perubahan dan perbaikannya, bila pemeluknya cenderung kepada aspek kemanusiaan.

Beragama semestinya berfungsi untuk mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial, dalam masyarakat yang memegang fungsi ini, maka fungsi agama tersebut dapat secara nyata ditegakkan.

Agama memungkinkan manusia melakukan hal-hal besar yang mampu dilakukannya, dan ia menyebabkan orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, ia memberikan kepadanya kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan. Namun bila seseorang kehilangan pemaknaan yang hakiki dan sikap toleransi, agama juga dapat mendatangkan akibat-akibat lain, berupa timbulnya berbagai konflik dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, juga dapat membendung berbagai kemajuan yang berdasar pengalaman maupun ilmu pengetahuan.

Dialog Sehat
Untuk mewujudkan cita-cita persatuan yang ideal, dan memperkecil hambatan-hambatannya, maka diperlukan dialog sehat antar sesama warga bangsa yang majemuk ini. Manusia yang menyendiri sajalah yang akan kehilangan kesempatan untuk berdialog, sekaligus kehilangan kesempatan untuk bermasyarakat. Dan ketika manusia membentuk masyarakat, maka dialog itu akan terjadi dengan sendirinya.

Hubungan antar umat beragama pada era ini, ditandai dengan apa yang disebut dialog. Dialog berarti percakapan tentang hal-hal esensial dan eksistensial. Indonesia yang masyarakatnya beraneka ragam dan dengan latar belakang yang berbeda-beda, sangat disadari akan pentingnya arti dan fungsi dialog itu.

Kita pahami dari berbagai dokumentasi dialog-dialog antaragama telah terselenggara, sejak masa-masa lalu dalam waktu dan proses yang panjang, dengan harapan dapat meraih hasil dialog yang signifikan. Walau dalam kenyataan masih belum dapat diraih seperti yang diidam-idamkan itu. Khususnya di Indonesia, konflik sosial yang diatasnamakan agama masih sering kali terjadi. Juga masih terdapat kecenderungan pemeluk agama yang belum bisa menerima keberadaan pemeluk lainnya. Itulah yang mendorong bahwa dialog masih memerlukan daya upaya yang serius agar cita-cita persatuan dan kebersamaan dalam kebhinekaan dapat terwujud.

Daya upaya dialog keagamaan/antaragama, di dalam masyarakat Indonesia semestinya terwujud pola kegiatan yang menyeluruh, maknanya dialog tersebut bukan hanya dilaksanakan oleh elit-elit tertentu, yang kesannya berlangsung elitis. Namun, harus dibiasakan pelaku maupun partisipan dialog justru dari lapisan masyarakat kebanyakan/umum. Sehingga apa yang dihasilkan dari dialog kata-kata, dapat diwujudkan dalam praktik perbuatan oleh lapisan paling bawah masyarakat secara menyeluruh.

Dari Lisan al-Maqal Menjadi Lisan al-Hal
Sekecil apapun kita hari ini adalah wujud sebuah komunitas, kata orang komunitas pesantren, biasanya komunitas pesantren itu memiliki potensi untuk mewakili masyarakat muslim. Sejak menjelang berdiri, kita telah sepakat untuk menetapkan suatu Kredo, sebagai pernyataan keyakinan dan tuntunan keyakinan bermasyarakat majemuk, yakni: Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Kredo ini kita yakini, seiring dengan tadabbur kita pada sejarah, yakni Piagam Madinah yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad S.A.W, dalam interaksi baginda dengan penghuni masyarakat majemuk yakni Madinah/Yatsrib. Dengan kredo tersebut kita membangun karakter, dan karakter kita adalah kredo kita, yang merupakan akar budaya yang kita kembangkan menjadi suatu kearifan lokal.

Kredo yang kita gariskan tidak mengenal batas waktu, sebab apa yang kita pilih dan tetapkan adalah kredo yang seiring dan sejalan dengan cita-cita keagamaan, ketakwaan, dan kenegaraan kita. Ukuran keberhasilannya pun, tidak semudah mengukur jarak dan isi suatu ruang. Namun, sebagai orang dan komunitas yang meyakininya, perumpamaan ukuran untuk itu adalah: Penanam Pohon, selambat apapun buah hasil yang diidam-idamkan tatkala kita menanam dan memeliharanya, rindangnya tanaman itu sudah dapat membawa teduh bagi sekitarnya, dan kita dapat berteduh sekadar melepaskan terik panas yang menerpa.

Kita merasa sedikit lega, sebagai komunitas, bersama-sama dengan komunitas lainnya dapat ikut menanam benih budaya kehidupan Toleransi dan Perdamaian, dan terus menumbuhsuburkannya melalui pendidikan, sekalipun sangat kecil dan belum berarti banyak, namun usaha itu adalah bentuk dialog lisan al-hal, katakanlah kredo yang terpampang dalam bentuk tulis adalah merupakan dialog kata-kata, sedangkan sikap dan karakter yang kita hasilkan dari dialog kata merupakan dialog karya. Dialog al-hal atau dialog karya itulah yang seharusnya kita perbanyak dalam langkah kita hari ini dan ke depan.

Tantangan dalam Menempuh Cita-Cita
Kekerasan tabiat manusia bukan karena alam lingkungannya, sikap tidak toleran juga bukan ditentukan oleh genetika seseorang. Sesungguhnya rasa curiga yang berlebihan, rasa takut, dan kebodohan adalah akar penyebab sikap tidak toleran itu, pola tidak toleran itu dapat tertanam pada jiwa manusia sejak usia dini. Sikap tidak toleran yang seperti itulah yang selalu menjadi tantangan bagi komunitas yang mencita-citakan kehidupan toleransi dan damai (harmoni).

Dengan memahami akar masalah terjadinya sikap tidak toleran itu, komunitas yang selalu menggalang terwujudnya sikap toleransi dan damai, dapat mengambil hikmah dari setiap tantangan yang dihadapkan kepadanya, kita termasuk ikut menghadapi tantangan itu. Karenanya, hikmah yang paling kita rasakan adalah kesungguhan kita dalam mencari jalan ruhani, menuju ketangguhan moral berupa pendalaman nilai-nilai ajaran Ilahi yang secara esensial jalan ruhani itu menjadi suatu metoda praktis untuk membimbing diri, mengendali cara pikir, merasa, dan bertindak. Sehingga terwujud tata kesopanan (etika) pada setiap waktu dan tempat, dan secara bertahap dapat meningkatkan perenungan menuju penyadaran diri yang lebih baik. Tantangan itu selalu terus datang, sekalipun bentuknya akan berlainan, seiring dengan cita-cita luhur itu terus berjalan juga.

Maka dalam menghadapi tantangan masa depan, kita harus lebih mempertegas jalan ruhani, dan ketangguhan moral kita dalam mendalami nilai-nilai ajaran Ilahi, dan terus mengumandangkan kredo yang kita yakini, menjadi lebih dipahami oleh khalayak, melalui jalan pendidikan dan pembelajaran yang lebih detil dan sistematis. Dan terus mengasah ketajaman pikir dan rasa yang dapat menghantarkan hidup ini lebih bermakna, termasuk bersatu dalam membangun dan mengembangkan Persatuan Indonesia menjadi lebih kokoh dan kuat.

Tujuh Ciri Manusia Abad ini
Kita harus terus belajar hidup secara nyata. Belajar berarti melihat, mendengar, berpikir, mempersiapkan atau mencontoh yang lebih baik. Hidup berarti melangkah maju, berjalan, lari, atau lompat ke depan. Karenanya, sampai kapanpun hidup dan kehidupan ini harus diawali dan dilandasi oleh pendidikan dan pembelajaran.

Persatuan Indonesia harus terus wujud dan kuat. Selaku warga bangsa yang berkiprah di arena pendidikan, kita harus ikut mempersiapkan tampilnya generasi produk pendidikan Indonesia yang memenuhi ciri-ciri abad ini: 1) Sebagai pemikir sistem-sistem, berkeupayaan menggabungkan antara isu, kejadian, dan data secara utuh dan terpadu. 2) Sebagai agen perubahan, yang berkemampuan mengembangkan pemahaman, dan memiliki kompetensi tinggi dalam menciptakan dan memenej perubahan bagi kehidupan bangsa agar dapat bertahan hidup.

3) Sebagai pembaharu dan berani mengambil risiko, terbuka terhadap perspektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan yang esensial dalam menentukan tren dan menggerakkan pilihan. 4) Berkemampuan dan berkelayakan untuk meningkatkan pelayanan kepada yang lain, berpendekatan holistik untuk bekerja, memiliki a sense of community dan berkemampuan membuat keputusan bersama.

5) Berkeupayaan untuk dapat mengoordinasikan banyak hal di waktu yang sama yang dapat bekerja berbarengan dengan orang lain. 6) Berkeupayaan tampil sebagai pembantu orang lain untuk belajar, menciptakan banyak pendekatan yang beraneka, sebagai instruktur, juru latih, dan penasihat yang bijak (mentor). 7) Berkeupayaan membantu membangun visi bangsa/negaranya dan memberi inspirasi bagi segenap lapisan masyarakat, yang diposisikan sebagai kolega maupun pelanggan. Demikian Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang. BI/MS-BHS (Berita Indonesia 71)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: