Tegakkan Toleran Sebagai Akidah

March 24, 2010

Lagu “Gereja Tua” Turut Dikumandangkan

http://www.beritaindonesia.co.id

Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang dalam silaturahim Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H bertepatan Sabtu 13 Oktober 2007, di ruang Mini Al-Zaytun Student Opera (Mini Zeteso), Kampus Al-Zaytun, mengajak ummat Islam Indonesia untuk hidup bersatu, damai dan toleran terhadap semua ummat beragama lain.

Pemangku pendidikan yang disebut TokohIndonesia.com sebagai tokoh pembawa damai dan toleransi itu mengajak ummat Islam menegakkan toleransi sebagai akidah.

Ajakan untuk menegakkan toleransi sebagai akidah itu mencerminkan kepemimpinan dan kepeloporan Syaykh, dari ajakan toleransi yang sering dikemukakan pemimpin ummat lainnya. Syaykh membeberkan sejumlah argumentasi, yang selama berabad-abad ini seolah-olah dibenarkan untuk dipelihara secara abadi oleh ummat, padahal keliru.

Syaykh juga mengemukakan berbagai persoalan yang selama ini sepertinya tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Namun mengerasnya sikap bertahan pada sebagian ummat, dalam pandangan Syaykh, akan menjadi luruh manakala diperhadapkan dari sudut pandang lain yang berbeda dan lebih jernih.

Ajakan untuk bersatu, damai dan toleran sangatlah tidak mudah diwujudkan di alam kebebasan yang serba menonjolkan kepentingan pribadi, individu dan kelompok dimana-mana di seluruh dunia termasuk di Indonesia akhir-akhir ini. Termasuk dalam hal penetapan awal dan akhir bulan puasa.
Karena itu Syaykh mengimpikan kelak simbol pemersatu dunia akan diperlambangkan oleh sebuah simbol yang bentuknya bulat dan berwarna merah putih, serta tertulis di situ nama Yayasan Pesantren Indonesia. Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) adalah pengelola Kampus Al-Zaytun.
Secara tekstual, Syaykh sudah memidatokan alasan ajakannya untuk hidup bersatu, damai dan toleran dalam khutbah solat Idul Fitri 1 Syawal 2428 beberapa saat sebelumnya di Mesjid Al-Hayat, Kampus Al-Zaytun. Syaykh sangat prihatin betapa dalam menetapkan awal dan akhir bulan puasa, ummat Islam Indonesia masih tak bisa menemukan kata sepakat.

Menurut Syaykh, sebagai penggabungan tradisi kenabian dari para nabi terdahulu, yang lalu kemudian disyariatkan untuk dilaksanakan, Islam hanya mengenal dua saja shalat Ied yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Namun kemelencengan begitu nyata terjadi sekarang ini. Terdapat dua hingga tiga shalat Idul Fitri, seperti yang terjadi di Padang, Sulawesi Selatan, dan di NTB-NTT. Besok-besok bisa jadi jumlahnya menjadi empat atau lima dan seterusnya.

Peristiwa kemelencengan tersebut sudah pula yang kesekian kali terjadi di Indonesia. Syaykh mengatakan, penyebabnya ternyata sangat terkait dengan perjalanan sejarah ummat Islam di Indonesia yang selama berabad-abad pernah hidup di alam penjajahan.

Rupanya, demikian kata Syaykh, hidup dalam penjajahan hakikatnya sama persis dengan hidup di bawah perbudakan. Mental perbudakan yang belum bisa dilepaskan itulah “Potret Ummat Islam Bangsa Indonesia” saat ini, yang menjadi penyebab utama ummat Islam Indonesia belum bisa hidup bersatu, damai dan toleran.

Di Mini Zeteso, giliran berbicara di hadapan ratusan orang anggota keluarga karyawan, guru, dan eksponen Al-Zaytun yang bersilaturrahim, Syaykh memaparkan secara kontekstual makna ajakan untuk hidup bersatu, damai dan toleran.

Syaykh memulainya dengan meminta Tim Kesenian Al-Zaytun yang sedang menghibur Keluarga Besar Al-Zaytun dengan mendendangkan lagu-lagu rohani, untuk menyanyikan lagu “Gereja Tua” ciptaan Benny Panjaitan dari grup legendaris Panbers.
“Tiga sahabat kita yang mendokumentasikan perjalanan Idul Fitri di Al-Zaytun, semuanya dari Nasrani. Kasih hadiah “Gereja Tua”. Bisa? Ah, bagus, hadiahnya paling bagus,” ucap Syaykh, merujuk kepada kehadiran tiga wartawan majalah Berita Indonesia yang sedang meliput dan berada di tengah-tengah Keluarga Besar Al-Zaytun, yaitu Haposan Tampubolon, Marjuka Siutumorang, dan fotografer Wilson Edward.

Hadiah terbaik yang diberikan Syaykh spontan disambut tepuk tangan meriah oleh ratusan hadirin. Ketika “Gereja Tua” sudah mengalun pun semua hadirin di tempat duduknya masing-masing turut melafalkan lirik lagu, sebagian lagi bergumam mengikuti irama. Syair “Gereja Tua menceritakan kisah persahabatan dua insan remaja di samping sebuah gereja tua, tetapi telah 10 tahun kemudian mereka hidup terpisah. Karenanya kendati masing-masing sudah memiliki pasangan hidup, kedua insan itu sangat menginginkan dapat bertemu kembali sekadar untuk melepaskan kerinduan hati akan kenangan persahabatan masa lalu.

Islam Berada di Tengah

Syaykh Al-Zaytun mengatakan, Idul Fitri adalah sebuah tradisi yang disyariatkan. Bahkan Idul Fitri menggabungkan berbagai tradisi yang disyariatkan oleh nabi-nabi terdahulu, serta mengilhami apa yang dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya. “Dalam Idul Adha melambangkan juga nabi terdahulu, mungkin Nabi Isa,” kata Syaykh.

Dari Nabi Musa yang mempunyai “10 Hukum Taurat” atau Ten Commandment, misalnya, Syaykh mengatakan hanya satu saja hukum Musa yang tidak dipakai oleh Nabi Muhammad Rasullah. Yaitu meletakkan hari Sabtu sebagai hari besar. Ummat Islam meletakkan hari Sabtu menjadi Jumuah, yang menyatukan antara Ahad dan Sabtu.

Dari tiga agama samawi, atau agama yang mendapat wahyu dari Tuhan yang sering pula disebut sebagai agama “langit”, yaitu agama Yahudi, agama Nasrani, dan agama Islam, menurut Syaykh, terdapat kemiripan yang sama antara Yahudi dengan Islam.

“Kemiripannya sama yang dinamakan oleh mereka dan kita agama tauhid, monoteis. Untuk dekat kepada Tuhan dengan tingkah laku individu yang dinyatakan baik, itu agama tauhid,” ucap Syaykh. Sebagaimana agama Islam, Syaykh mengatakan agama Yahudi mengenal Lahilahaillalah (tiada Tuhan selain Allah), tetapi tidak mengenal Muhammad Rasullallah. Jadi, tauhid keduanya memang sama.

Sedangkan agama Nasrani menurut Syaykh awalnya datang untuk menciptakan kasih. Sebab orang Yahudi pada waktu itu hidup gontok-gontokan terus. Hukumnya kasar sampai-sampai tobatnya orang Yahudi adalah membunuh dirinya sendiri.

“Nah, datanglah Nabi Isa yang sesungguhnya masih satu rumpun, “Bukan begitu,” katanya. Maka diberikan kasih yang kemudian, dalam perjalanan pembangunan individu keagamaan tumbuhlah suatu sikap bahwa dalam Nasrani terbentuk sakramental. Sakramental artinya, orang baru menjadi Nasrani kalau mengakui keberadaan Yesus Kristus sebagai sang penebus dosa,” ucap Syaykh.

Syaykh mengatakan, dalam kehidupannya orang Nasrani selalu mendapatkan baptis. Ada air suci perlambang darahnya Nabi Isa, dan ada roti perlambang tubuh Nabi Isa. Tanpa melalui itu tidak menjadi Nasrani yang sohih. “Nah, itulah maka dinamakan sakramental.”
Islam, kata Syaykh kemudian datang, dan ada di tengah-tengah yang diistilahkan ummatan wasathan. Islam tidak terlalu membebaskan dan tidak terlalu mengekang. Terjadilah sebuah kehidupan ada hukum dan ada kebebasan. Tidak bebas terus dan tidak kaku terus.

“Prinsipnya seperti itu. Namun dalam perjalanan, kita umat Islam kembali mundur. Banyak sekali yang kaku, apriori. Kalau tidak dari agama kita, kita tidak mau dekat. Ini sudah salah visi dan misinya, melenceng,” kata Syaykh. “Belakangan sering nampak kemelencengan-kemelencengan. Maka terjadilah Tuhan mencipta dalam diri manusia. Menetapkan itu halal darahnya, ini sesat. Karena Tuhan menjelma sebagai manusia maka terjadilah kemunduran dalam beragama.”

Menurut Syaykh, mengarahkan ummat Islam Indonesia menjadi toleran tidaklah mudah apabila tak mengetahui sebab-musabab mengapa harus hidup toleran. Bahkan, toleransi merupakan sasaran bidik orang-orang beragama yang tidak mengerti, atau ummat yang mengatakan toleran itu tidak betul.

Dijelaskan Syaykh, toleransi ditumbuhkan dalam sikap yang dinamakan samahah atau tasamuh atau samhah, dan merupakan misi kehidupan ummat manusia, atau misi agama itu sendiri. Itu sebab agama samhah adalah agama Ilahi. Karena itu agama yang kaku adalah kontra samhah, yang membuat kehidupan menjadi kacau-balau atau karut-marut.

Menegakkan jiwa toleransi bukanlah sesuatu yang mendadak jadi. Jiwa toleransi kalau dijadikan akidah prosesnya panjang. Sama persis seperti proses larva menjadi kupu-kupu, untuk menjadi binatang yang bisa terbang, yang punya sayap, yang warnanya indah, yang disukai orang, dan yang tidak bisa ditangkap oleh siapa pun.

“Mungkin saudara mengalami itu. Tatkala belum punya sikap toleran. Melihat apa-apa saja, ‘Apa itu, bukan kita, ini Ulil Amri siapa?.’ Semua proses,” kata Syaykh. Tapi tatkala proses itu untuk membangun diri dengan sungguh-sungguh maka terjadilah, “Oh, iya ya.”

Menurut Syaykh, yang namanya toleran mempersilakan apa saja dan siapa saja yang bertentangan maupun yang sama dengan kita. Kemudian kita tidak pernah lepas dari tujuan dasar hidup. “Nah, itu toleransi. Kalau sudah bisa begitu dunia ini toto titi, tenteram tanpa geger.”

Syaykh menyebutkan di dalam intern ummat beragama Islam sendiri masih belum banyak yang bisa bertoleransi. Itu sebab toleransi perlu ditanamkan menjadi akidah. Toleransi sebagai akidah perlu karena pada dasarnya ummat manusia tidak beda. Beragama pun tidak beda.

Orang beragama ingin mendapatkan sa’adah, kesejahteraan, ketenangan batin maupun rohani. Menurut Syaykh, komponen manusia terdiri tiga unsur yaitu jasmani, nafsani, dan rohani. Jasmani adalah segala fisik kita, nafsani kejiwaan kita, dan rohani sesuatu yang ada sejak sedia kalanya.

Khusus soal rohani manusia, siapa saja orangnya, apa saja agamanya, sampai kepada orang yang tidak beragama atau yang anti Tuhan sekalipun, Syaykh mengatakan mengakui satu prinsip bahwa dia mempunyai roh. Atau, ada yang menciptakan dirinya.

Keyakinan soal adanya rohani manusia itulah yang membuat persaudaraan, persahabatan, dan kekitaan terbentuk menjadi prinsip yang lebih inti serta lebih asasi, daripada praktik-praktik apapun yang bisa menimbulkan persengketaan.

Karena itu, sekalipun timbul perbedaan dalam menghadapi ibadah ritual, Syaykh berpesan silakan pilih mana yang disuka. Sebab persaudaraan wajib ditegakkan. Demikian pula kebersamaan dan persatuan wajib ditegakkan.

Menyerah Kepada Kebenaran

Secara intern, sesama ummat Islam Indonesia wajib menegakkan toleransi sebagai akidah. Secara ekstern Syaykh mengatakan hal yang sama berlaku pula kepada ummat beragama lain yaitu hormati mereka.

“Seperti Idul Fitri kali ini kita hadiahkan kepada sahabat kita tadi “Gereja Tua”. Mengapa “Gereja Tua”, karena memang gereja duluan ada daripada mesjid. Jadi lebih tua umurnya. Mengapa begitu, karena bahasa mesjid itu belakangan,” urai Syaykh, memperoleh applaus tepuk tangan dari para hadirin.

Lagu “Gereja Tua” menjadi pintu masuk bagi Syaykh untuk mengajarkan kehidupan yang toleran kepada ummat beragama lain. Syaykh menceritakan bagaimana di Istambul, Turki, ada Sofia, yang orang Islam mengatakan Aya Sofia, dikasihkan kepada orang Islam dan dijadikan mesjid.

Tetapi begitu orang Nasrani hendak melakukan commemoration atau napak tilas, orang Islam memberikan kesempatan untuk menggunakan mesjid tersebut.Demikian pula dengan orang Islam yang berada di Andalusia, memberikan Al-Hamro di Cordoba walau dengan hati agak sedih. Di sana Al-Hamro yang merupakan mesjid dijadikan sebagai gereja.

“Tapi hakekatnya gereja itu lebih tua dari Mesjid ‘huruf besar’. Kalau mesjid ‘huruf kecil’ itu sama-sama antara gereja, sinagog, dan tapekong tempat orang-orang agama Konghucu dan lain-lain. Itu namanya mesjid tempat bersujud,” kata Syaykh. Menurut Syaykh, arti mesjid dengan m huruf kecil adalah tempat bersujud.

Syaykh mengatakan, karena anatomi bahasa ingin menimbulkan sebuah tempat dan sebuah nama, maka mesjid yang dipakai orang Islam dikasih nama Mesjid dengan M huruf besar.

Sejurus kemudian penjelasan yang sama diberikan pula oleh Syaykh tentang pemaknaan islam. “Seperti kita yang Islam, Nabi Isa islam, Nabi Ibrahim islam, Nabi Adam islam, Nabi Muhammad islam, islam huruf kecil. Apa itu islam huruf kecil, artinya mental attitude, sikap menyerah kepada kebenaran.”

Syaykh mengatakan, arti islam adalah menyerah kepada kebenaran. Dalam perjalanannya, ummat Nabi Muhammad hendak mencari nama, apa nama yang bagus untuk agama yang menyerah ini. Tersedia tiga pilihan. Ada iman, islam, dan ikhsan. Maka dipilihlah Islam dengan I huruf besar. Jadi dipakailah agama Islam.

Tetapi, kata Syaykh, antara islam yang huruf kecil dengan Islam yang huruf besar belakangan ini menjadi sangat jauh bedanya. Islam huruf kecil i dimiliki oleh seluruh ummat yang beragama. Sedangkan Islam I huruf besar hanya dimiliki oleh orang yang beragama Islam.

Padahal, menurut Syaykh seyogyanya kita memperdalam islam huruf i kecil, jangan hanya mendalami Islam I huruf besar. Sebab kalau I huruf besar saja yang kita pelajari jiwa tolerannya menjadi minus. Tapi kalau islam menjadi sesuatu mental attitude dengan tulisan i huruf kecil, kita menjadi umat yang satu. Umat yang satu artinya semuanya adalah umat manusia yang memiliki satu hak-hak yang harus ditegakkan, yang namanya hak asasi.

Diplomasi Sapi

Mengakhiri pidato silaturahimnya, Syaykh mengemukakan ada rencana besar Al-Zaytun untuk mengimpor 1.000 kepala sapi perah dari Selandia Baru, total senilai 2,34 juta dollar AS, diperkirakan tiba di Al-Zaytun Maret atau April 2008.

Syaykh didampingi tiga eksponen Al-Zaytun yaitu Imam Supriyanto, Ir. Bambang Abd. Syukur, dan Nasir Abdul Kadir berangkat ke Selandia Baru Senin 15 Oktober untuk menandatangani kontrak jual-beli sapi. Inilah kontrak jual-beli sapi terbesar yang pernah dilakukan Indonesia, oleh kalangan swasta pula.

Syaykh tak lupa menyelipkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi ketika menjelaskan impor sapi ini. Kata Syaykh, China sudah masuk kepada kebijakan nasional untuk memberikan konsumsi susu kepada bangsanya minimal setengah liter per hari. Bisa dibayangkan seberapa banyak sapi laktase diperlukan. Kebijakan China membuat harga sapi perah di pasaran dunia melonjak, dari 1.000 dollar AS per kepala di tahun 2000 menjadi rata-rata 1.850 dollar AS per kepala. Sebab China mengimpor sapi besar-besaran dari seluruh penjuru dunia.

Menurut Syaykh, China realistis, tidak seperti Indonesia. Mungkin karena mereka tidak punya majelis ulama atau dewan gereja. Tatkala menentukan kebijakan asal masuk akal dan ilmiah, jalan, tidak pakai perhitungan ini haram atau halal. Tidak pula mesti dimintakan fatwa dari majelis ulama.

“Itu yang tidak ada di China dan itulah penyebab kemajuan untuk China sehingga untuk beberapa saat mampu menggegerkan dunia. Termasuk sapi dan harga susu sekarang ini melambung di pasaran dunia karena China sudah mulai masuk dalam program memberikan makan susu. Dan itu program Ilahi,” kata Syaykh.

Program Ilahi pulalah yang dijalankan Syaykh sehingga merancang pendirian peternakan sapi dan industri pengolahan susu sapi berskala dunia di Al-Zaytun. Begitu 1.000 kepala sapi tiba turunannya akan segera di-up grade dengan teknologi sistem transfer embrio dan inseminasi buatan yang sudah dikuasai Al-Zaytun.

Kata Syaykh, Al-Zaytun sudah menghubungi negara-negara maju yang memiliki informasi dan sumberdaya sapi yang tinggi seperti Kanada. “Tapi harus dari turunan yang elit. Kalau perlu kita membeli dari Israel, sebab Israel ternyata memiliki sumber sapi yang sangat istimewa. Sapi Timur Tengah awalnya sapi syam, Damaskus, kemudian disilang dengan FH dan sebagainya menjadi susu sapi yang terbagus di dunia. Sayang kita ini negara muslim yang nabinya sama, kakek moyangnya Ibrahim, tapi paling benci pada Yahudi sehingga tidak menjalin diplomatik dengan Israel,” kata Syaykh.
Sebab, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan perkara Israel kalau hubungan diplomatik saja tidak ada. Sedangkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas saja, dengan Perdana Menteri Israel sudah berjabat tangan.

“Lha kita yang jauh dari mana-mana, kok anti. Irasional. Jangan ada di dunia ini negara yang tidak punya hubungan diplomasi. Karena kecil kalau kita masih memisah-misahkan itu. Namanya terpencil, terisolir, sudahpun tidak kaya tapi sombong. Sudahpun miskin tapi otaknya cingkrang. Sudahpun kasar tapi mengajari yang pintar,” kata Syaykh.

“Itu wujud keadaan sekarang. Mudah-mudahan besok kita ubah melalui diplomasi. Jadi umat Yahudi itu, atau bani Israel simbolnya sapi. Maka nanti diplomasi sapi,” kata Syaykh yang berjanji kelak akan menjalankan diplomasi sapi dengan Israel.

Syaykh juga mengkritisi betapa Indonesia pernah dipimpin oleh sebuah kekuatan sosial politik yang mempunyai simbol sapi, tapi tetap tidak berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Walaupun simbol mereka moncong putih tetap saja tidak berani.

“Jangan-jangan nanti yang tidak punya simbol apa-apa, hanya bulat, atau merah-putih bulat itu yang akan membulatkan dunia ini menjadi utuh,” kata Syaykh, merujuk kepada simbol Yayasan Pesantren Indonesia, pengelola Kampus Al-Zaytun. HT (BI 49)

Sumber: http://www.beritaindonesia.co.id/lentera/tegakkan-toleran-sebagai-akidah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: