Menanti Lanjutan Peran Toleransi NU

March 25, 2010

Oleh Suhadi Cholil
Kompas, Rabu, 24 Maret 2010 | 17:11 WIB

Jajak pendapat Kompas (15/3) meneguhkan masih tingginya keyakinan publik terhadap peran Nahdlatul Ulama sebagai garda depan bangsa dalam mewujudkan iklim toleransi beragama dan demokrasi di Indonesia. Harapan ini menarik untuk dicermati para pemimpin, calon pemimpin, serta warga NU, tak terkecuali di Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagian besar responden dalam jajak pendapat itu yakin, NU pasca-Gus Dur akan tetap mampu menjaga toleransi antarumat beragama (77,5 persen) dan menjaga iklim demokrasi (61,9 persen).

Satu temuan lain yang menarik adalah penilaian responden tentang peran penting apa yang telah dijalankan NU selama ini.

Secara konsisten, responden-yang sebagian besar mengaku bukan warga NU-menempatkan pilihan peran penting NU dalam mewujudkan toleransi beragama (43,7 persen) pada posisi pertama, disusul menyelenggarakan pendidikan pesantren (18,2 persen), menciptakan iklim demokrasi (9,8 persen), pengembangan perekonomian rakyat (7,9 persen), mewujudkan Islam yang humanis (6,8 persen) dan memajukan peran perempuan (0,6 persen).

Meninggalnya Gus Dur sebelum Muktamar Ke-32 NU merupakan kehilangan besar warga NU. Meski akar toleransi dan demokrasi kuat dalam tradisi NU, Gus Dur telah mampu mengajak warga NU tidak saja membicarakan akar-akar toleransi di dalam tradisi pesantren, tapi pada saat bersamaan juga menjalani toleransi dengan sangat konkret. Efeknya, tidak salah kalau kemudian Frans Magnis Suseno dengan sangat mendalam menorehkan kesannya bahwa hubungan umat agama minoritas dengan Islam belum pernah sebaik ini, sesuatu yang tak bisa dilepaskan dari jasa Gus Dur (majalah Tempo, 11/1/10).

Apakah sepeninggal Gus Dur, NU bisa menjadi tumpuan harapan toleransi bagi pemeluk agama atau keyakinan minoritas? Setidaknya, melalui jajak pendapat Kompas di atas, publik dengan sangat yakin menjawab “ya”.

Kalau kita kaji, keyakinan itu cukup beralasan. Toleransi dalam tubuh NU merupakan konsekuensi dari epistemologi konstruksi pengetahuan bagaimana seharusnya beragama menurut NU.

Pertama, selain menekankan syariat, tasawuf (mysticism) merupakan elemen beragama yang penting di NU. Di saat sebagian kelompok mengharamkan dan menganggap tasawuf sebagai bid’ah, ulama NU dengan tegas menempatkan tasawuf dan syariat saling komplementer.

Telah lazim di kalangan para pengkaji mysticism, termasuk Annemarie Schimmel (1983), bahwa tasawuf merupakan sumber toleransi dan kerendahan hati.

Kedua, bangunan pengetahuan keagamaan di NU cenderung menempatkan konsep-konsep yang integratif dan tidak kontradiktif. Misalnya, meskipun aliran fiqh (hukum) yang dominan di kalangan kaum nahdliyin ini adalah madzhab Syafi’i, Kyai Hasyim Asy’ari (pendiri NU) mengadaptasi sekaligus madzhab Maliki, Hanafi, dan Hambali sebagai madzhab yang sah dalam qanun asasi (semacam ajaran dasar) NU. Di zamannya, ini adalah sebuah kemajuan besar di mana keempat madzhab itu di negara lain bisa saling kontradiktif, bahkan pengikutnya saling berbenturan.

Rupanya Gus Dur juga mewarisi kelihaian ulama-ulama besar sebelumnya dalam pola berpikir bahwa mayoritas tak perlu diperhadapkan dengan minoritas, tauhid dengan pluralisme dan kebebasan beragama.

Ketiga, selagi NU masih menjadi representasi kekayaan intelektual yang dinamis dan dialektis dari pesantren, semangat toleransi NU diharapkan tetap kuat. Sistem pembelajaran di pesantren menyediakan ruang yang luas dan terbuka untuk memahami perbedaan.

Untuk tidak terjebak pada relativisme, pembelajaran di pesantren mengajarkan seorang kiai dan santri harus teguh memegangi dan menjalankan pendapat yang diyakini kebenarannya. Namun, di saat bersamaan tidak berpikiran sempit karena di luar ajaran yang dipeganginya terdapat hamparan pendapat lain yang berbeda dengan segala argumentasinya. Salah satu inti dari pembelajaran di pesantren adalah pembelajaran tentang perbedaan.

Tantangan

Sebagaimana disebut di atas, kelebihan Gus Dur, di luar juga keterbatasannya yang harus kita akui, adalah mempraktikkan toleransi dengan sangat konkret. Sampai-sampai tidak memiliki rasa takut sedikit pun dalam memegangi prinsip tentang kebebasan beragama.

Oleh sebab itu, di luar akar-akar pengetahuan toleransi di atas, harapan apakah NU bisa tetap sekuat era belakangan ini dalam memperjuangkan toleransi adalah apakah pemimpin NU yang akan segera dipilih siap mempraktikkan toleransi dengan sangat konkret.

Dua tantangan lain NU di masa depan yang bisa kita ketahui dengan segera dari jajak pendapat Kompas di atas adalah pengembangan ekonomi rakyat dan pemajuan peran perempuan.

Dalam bidang ekonomi, sebenarnya tidak sedikit pesantren yang telah merintis kemandirian ekonomi seperti di Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor, dan Pesantren Maslakul Huda di Pati.

Masalahnya, NU sebagai sebuah organisasi belum berbuat banyak untuk mendorong pemberdayaan ekonomi warganya. Kalaupun ada pesantren yang mulai berpikir jauh mengenai kemandirian ekonomi, tidak lebih merupakan jerih payahnya sendiri. Tantangan dalam bidang ini semakin menganga bila kita tengok di luar dunia pesantren di mana banyak kaum nahdliyin baik di wilayah rural maupun urban yang mengalami kesulitan serius dalam bidang ekonomi. Tidak terelakkan bahwa pekerja migran kelas bawah di luar negeri adalah kaum nahdliyin.

Pemajuan peran perempuan merupakan tantangan lain yang tidak bisa dianggap sepele. Meskipun ada sebagian kiai yang menjadi garda depan di dalam gerakan feminisme pesantren dan signifikansi peran badan otonom sayap gerakan perempuan NU dan LSM-LSM berbasiskan aktivis pesantren yang sangat kuat, pada kenyataannya isu kesetaraan jender masih menjadi isu pinggiran di NU.

Meskipun dalam hitung-hitungan politik di NU tingkat nasional biasanya pengurus dan aktivis NU dari Yogya kurang diperhitungkan, tak bisa dimungkiri gerakan kultural dan intelektualnya menjadi basis gerakan progresif yang sangat diperhitungkan secara nasional. Sebagian aktivis kaum muda NU di kota ini baik yang membangun institusi, semisal LKiS dan Syarikat, maupun yang tersebar di banyak gerakan masyarakat sipil dan kampus, meskipun tetap ada pasang surutnya, merupakan ujung tombak penting gairah gerakan kebudayaan dan intelektual NU di tingkat nasional.

Di luar jajak pendapat yang sangat meyakinkan di atas, tak bisa ditutup-tutupi sesekali mulai muncul pertanyaan tentang disorientasi tujuan kebangsaan NU akibat polah tingkah sebagian pengurusnya dalam barter politik kekuasaan yang sangat kasatmata belakangan ini.

Oleh sebab itu, selain kita menunggu kelanjutan suara visi kebangsaan NU dari Muktamar ke-32 di Makassar, kita perlu meyakinkan diri bahwa dari tahun 1980-an kaum muda NU di Yogyakarta telah menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi progresivitas gerakan NU, termasuk dalam menelorkan praktik konkret pluralisme, multikulturalisme, rekonsiliasi, dan gerakan kesetaraan jender.

SUHADI CHOLIL Pengajar di Prodi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM dan Aktivis Forum Gus Dur Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: