Sejarah Gereja Katolik Betawi

April 6, 2010

Sepangkèng[1] Kisah Umat Katolik Kampung Sawah

Seluruh jemaat, datanglah. Menuju altar Tuhan Allah. Alunkanlah lagu pujian. Kita puji kebesaranNya. Plak kedang dung plak plak plak kendang nyaring ditepak. Yang mengiring misa semua nyanyi riang…” 

Lagu gerejawi bergaya betawi yang berjudul Seluruh Jemaat Datanglah[2] itu kerap bergema di sebuah gereja, di pelosok pinggir tenggara Jakarta. Kisah pergolakan iman umatnya begitu panjang, sejak Jakarta bernama Batavia. Ini kisahnya…

Kisah Tumbuhnya Benih Iman

Batavia yang lengang, tahun 1895.  Engku[3] (guru) Nathanael, 50 tahun, menatap sebentar rumah kokoh di Lapangan Banteng yang disebut orang Rum[4] Katolik sebagai pastoran sekaligus keuskupan itu. Sebagai orang udik dari Kampung Sawah, 28 kilometer dari pusat Kota Batavia, ia pantas kagum, apalagi ketika ia sempat menengok Gereja Katedral yang megah. Ia banyak mendengar cerita dari para tetangganya tentang orang-orang Rum Katolik. Ia yakin, para tetangganya yang bekerja di pastoran dan di kompleks biara Ursulin di Postweg (kini Jalan Pos) dan Noordwijk (kini Jalan Juanda) telah bercerita tentang perselisihan kaum Protestan di Kampung Sawah. Perselisihan yang berbuntut pemecatan dirinya sebagai guru pembantu!

Diketuknya pintu pastoran yang merupakan tempat tinggal Monseigneur Walterus Staal S.J, Vikaris Apostolik Batavia. Ia menatap sebentar ke arah kawan-kawannya yang senasib dengannya. Mereka harus bertemu pastor Rum Katolik!

Seorang pastor Belanda yang berusia 40 tahun, Pastor Bernardus Schweitz, SJ, menemuinya.  Engku Nathanael dan kawan-kawannya langsung menyatakan ingin menjadi Rum Katolik. Pastor Schweitz menatap mereka dengan bijaksana. Pastor yang telah 12 tahun bertugas di Flores, Lembata dan Sumba itu menyampaikan bahwa permohonan mereka akan dipertimbangkan, asal mereka bersedia mengikuti pelajaran khusus tentang ajaran Gereja Katolik.

            Pastor Schweitz ingat bahwa selama ini para pegawai di pastoran yang berasal dari Kampung Sawah sering bercerita tentang pertengkaran saudara-saudara Protestan di kampung mereka.  Lewat mereka, Pastor Schweitz tahu bahwa Engku Nathanael dan teman-temannya adalah 1 dari 3 kelompok jemaat Protestan yang saling bermusuhan. Pemahaman agama Kristen mereka pun masih sangat minim. 

            Permintaan Pastor Schweitz disetujui Engku Nathanael dan kawan-kawannya. Sebagai langkah pertama, pastor pun meminta kesediaan Bapak Suradi, yang tinggal di Kwitang-Kalipasir, untuk membuka pelajaran khusus bagi para warga Kampung Sawah yang ingin menjadi Katolik. Para katekumen pertama ini adalah Engku Nathanael, Tarub Noron dan Markus Ibrahim Kaiin. Ketiganya, sebelumnya telah menjadi guru injil jemaat Protestan. Selain itu ada Yosef Baiin dan Sem Napiun.

            Tanggal 22 Juni 1896, Engku Nathanael pun dibaptis oleh Pastor Schweitz. Beberapa bulan kemudian, Pastor Schweitz pun berkelana, dari pastoran Katedral ia menggunakan kereta kuda sampai Kampung Melayu, lalu dengan menyewa seekor kuda melanjutkan perjalanan menembus rimba belantara, melewati tanah-tanah partikelir perkebunan yang becek ketika hujan sampai  Kampung Sawah. Bila musim kemarau, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 4 jam. Akan tetapi bila hujan sudah turun, semua jalan kecil ke arah Kampung Sawah menjadi kubangan lumpur yang licin. Puncak kunjungan Pastor Schweitz adalah  pada tanggal 6 Oktober 1896, ketika ia membaptis 18 anak Kampung Sawah. Inilah hari bersejarah, hari “kelahiran” umat Katolik Kampung Sawah.

            Selanjutnya, Pastor Schweitz,  yang tetap tinggal di pastoran Katedral, berkunjung ke Kampung Sawah sekali dalam satu-dua bulan. Pada tanggal 8 Desember ia datang lagi dan membaptis 3 anak. Mengingat umat yang mulai tumbuh, Pastor Schweitz pun berniat mendirikan gereja, maka dengan izin tuan tanah keturunan Cina dari Pondok Gede, Pastor Schweitz membeli sebuah rumah desa yang sebagian ditata bagi keperluan ibadat.

Tahun 1897, siaplah sebuah “gereja” gubuk yang sederhana. Gereja kecil seharga 70 gulden itu dapat menampung sekitar 50 umat. Engku Nathanael pun diangkat menjadi ketua stasi dan guru agama. Bersama guru pembantu bernama Markus Ibrahim Kaiin dibuka juga semacam sekolah bagi anak-anak kampung.

Ketika pada akhir tahun 1897 jumlah baptisan Katolik sudah mencapai 47 orang, Gubernur Jendral Hindia Belanda sempat menyatakan keberatannya, namun peringatan ini rupanya tak diindahkan oleh Pastor Schweitz. Terbukti, pada bulan Mei 1898 ia mempermandikan 10 orang lagi. Benih iman yang baru tumbuh belum lagi matang, Pastor Schweitz jatuh sakit dan harus cuti ke Belanda pada tahun 1898.  Maka Pastor Edmundus Luypen, S.J, yang menggantikan Monseigneur W.Staal, SJ sebagai Vikaris Apostolik Batavia pun menunjuk  Pastor A.Kortenhorst, SJ untuk menggantikan Pastor Schweitz.

Pastor A. Kortenhorst, S.J secara berkala membaptis umat Katolik Kampung Sawah dan melaksanakan Misa Kudus dengan menggunakan doa-doa bahasa Latin. Khotbah  disampaikan dengan bahasa Indonesia bercampur Belanda yang kaku. Bila tak ada pastor, Engku Nathanael, dengan pemahaman iman Katolik yang masih seadanya, memimpin ibadat hari Minggu pagi dan mendoakan litani-litani yang dipetik dari Buku Pemimpin Serani. Pada tahun 1900 tercatat jumlah umat 78 orang.

[1] Sepangkeng: Pangkeng adalah tempat menyimpan beras,dan berbagai kebutuhan pokok yang penting. Pangkeng biasanya ada dalam bagian rumah dan tempatnya dianggap khusus.

[2] Karya Marsianus Balita.

[3] Sampai zaman Jepang para guru di daerah Kampung Sawah disapa dengan kata Engku, tapi kemudian kata itu diganti menjadi Bapak Guru.

[4] Maksudnya Roma Katolik.

Sumber: http://servatius-kampungsawah.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: