Undangan untuk Aktualkan “Ingatan Bersama”

April 6, 2010

Oleh: I Suharyo

Kompas, Sabtu, 3 April 2010

Setiap tahun umat kristiani merayakan Paskah dengan upacara yang lebih kurang sama. Upacara dimulai dengan gereja yang tanpa cahaya, gelap, sepi. Setelah lilin Paskah dinyalakan dan diarak masuk ke dalam gereja, lagu pujian Paskah dinyanyikan, lampu-lampu gereja dinyalakan, alat musik dan lonceng dibunyikan sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas karya agung Allah yang membarui kehidupan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci juga sama. Yang dikisahkan adalah karya agung Allah. Semula, manusia dan seluruh jagat raya berada dalam keadaan baik. Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak membiarkannya tanpa harapan. Ia membebaskan umat-Nya dari perbudakan dan membawa mereka ke tanah terjanji.

Kepada mereka diberikan hati yang baru, hati yang lembut, yang mengerti dan menaati kehendak Tuhan. Pesannya jelas, yaitu bahwa Paskah bukanlah sekadar upacara yang harus dijalani langkah demi langkah. Merayakan Paskah berarti mengenang dan merayakan karya agung Allah, sambil berharap dan percaya bahwa karya agung itu sungguh menyangkut dan membarui hidup secara nyata, kini dan di sini.

Ingatan bersama

Yang menarik adalah di antara banyak pilihan kutipan Kitab Suci yang tersedia, bacaan dari Kitab Keluaran wajib dibacakan. Kutipan ini berkisah mengenai pembebasan Umat Allah Perjanjian Lama dari negeri perbudakan di bawah pimpinan Musa.

Kisah mengenai peristiwa ini selanjutnya menjadi bagian dari ingatan bersama umat yang diwariskan turun-temurun (bdk Kel 26:5-10); bukan sekadar sebagai peringatan akan peristiwa masa lampau, tetapi sebagai peristiwa yang tetap aktual dan menyangkut kehidupan dan menentukan sejarah bangsa.

Ingatan bersama ini menjadi daya penyatu bagi bangsa, inspirasi untuk selalu mengembangkan hidup dan kekuatan ketika bangsa menghadapi krisis besar yang menentukan eksistensinya.

Paskah adalah saat ketika umat membatinkan ingatan bersama itu dan membiarkannya membarui kehidupan.

Sangat menyejukkan hati setiap kali membaca, mendengar, melihat kisah-kisah nyata yang disajikan melalui media massa yang mencerminkan kesadaran dan komitmen untuk, misalnya, mengembangkan kesetiakawanan sosial. Sebaliknya, sangat menyedihkan setiap kali membaca, mendengar, dan melihat berita yang hari-hari ini menjadi pusat perhatian media massa.

Yang sangat memprihatinkan tentu saja adalah di balik itu semua yang tampak adalah kemerosotan kesadaran moral yang rasanya semakin meluas. Analisis yang dirumuskan dalam Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia tahun 2004 rupanya tetap benar sampai hari ini: ”Masyarakat Indonesia berada dalam masalah yang serius. Masalah serius yang kita hadapi bersama adalah persoalan rusaknya keadaban publik… dalam keadaan demikian, kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia yang menjadi tujuan negara sulit dicapai. Sebaliknya, merebaklah wabah ketidakadilan di bidang politik, ekonomi, dan budaya” (No 2).

Mengapa sampai demikian? Mungkin salah satu alasannya karena, meskipun bangsa kita sebenarnya mempunyai banyak ingatan bersama, tetapi ingatan bersama itu sudah banyak dilupakan atau sekadar dibiarkan tinggal menjadi peristiwa masa lampau yang tidak mengikat kebersamaan, yang tidak menjadi inspirasi perjuangan membangun keadaban publik menuju habitus baru bangsa, dan tidak menjadi kekuatan ketika bangsa menghadapi krisis besar.

Yang saya maksud sebagai ingatan bersama bangsa Indonesia, misalnya, adalah peristiwa yang sekarang kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pancasila, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan peristiwa-peristiwa penting lain yang merupakan tonggak-tonggak dalam sejarah bangsa Indonesia. Rasanya ingatan bersama melemah, atau bahkan hilang, sementara sila pertama Pancasila sudah dipelesetkan menjadi keuangan yang mahakuasa.

Paskah yang nyata

Dalam upacara pemberkatan lilin Paskah, diucapkan kata-kata ”Milik-Nyalah segala masa dan segala abad. Kepada-Nyalah kemuliaan dan kekuasaan sepanjang segala masa”. Bersamaan dengan doa itu, lilin Paskah ditulisi angka tahun ketika Paskah itu dirayakan—tahun ini 2010. Dengan lambang dan kata-kata itu diungkapkan keyakinan bahwa Paskah yang dirayakan ini harus bermakna nyata bagi kehidupan pada tahun 2010 ini.

Bagi saya pribadi—dan kiranya bagi para pejuang pendidikan yang sudah sejak sebelum Indonesia ada atau merdeka sudah berjuang untuk membarui kehidupan dan tata kehidupan melalui pelayanan pendidikan—Keputusan Mahkamah Konstitusi, Rabu, 31 Maret 2010, yang membatalkan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945 adalah berita Paskah tahun 2010 yang memberi harapan.

Inilah keputusan yang memperhitungkan ingatan bersama kita sebagai bangsa. Semoga paskah-paskah seperti itu semakin sering terjadi di tengah-tengah kita. Selamat Paskah bagi yang merayakannya.

I Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: