Dialog Atasi Perbedaan

April 27, 2010

Selasa, 27 April 2010 | 03:55 WIB

Jakarta, Kompas – Pandangan dan sikap umat terhadap agama terus bergeser seiring perkembangan zaman. Perubahan pandangan itu membuat sikap umat terhadap umat beragama lain juga beragam dan terus berubah. Dialog antar-umat beragama merupakan media yang efektif untuk mengurangi ketegangan akibat perbedaan yang terjadi.

Demikian terungkap dalam seminar internasional ”Agama, Etika, dan Dogmatisme di Indonesia” di Jakarta, Senin (26/4). Pembicara utama seminar tersebut adalah Presiden Yayasan Etika Global Hans Kung dengan panelis mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqiel Siradj, dan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno.

Kung menjelaskan bahwa paradigma ketiga agama Ibrahim, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam, terus bergeser sejak agama itu muncul hingga kini. Perubahan tak hanya disebabkan perkembangan zaman semata, tetapi juga ada keterlibatan pengaruh politik di dalamnya.

Semula, agama berkembang dalam kelompok kecil. Berabad-abad kemudian, agama terus berubah dengan munculnya kerajaan-kerajaan teokrasi hingga mengalami modernisasi, seperti kondisinya saat ini. Setiap fase perubahan paradigma umumnya memiliki ciri-ciri khusus, baik dari sisi pelaku, waktu, maupun tempatnya. ”Manusia berubah, pandangannya terhadap agama juga berubah yang disesuaikan dengan kondisi dan nilai yang ada,” katanya.

Dalam perubahan paradigma itulah dibutuhkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar agama sebagai etika global. ”Untuk itu, dialog dan perjuangan demi tegaknya kebenaran dan keadilan perlu terus dilakukan,” ujarnya.

Magnis-Suseno mengatakan, dialog antar-umat beragama memang sulit dilakukan karena kompleksnya persoalan yang ada. Namun, hal itu harus terus dilakukan untuk mengurangi ketegangan dan menumbuhkan saling kepercayaan di antara umat beragama dalam memahami perubahan paradigma yang terjadi. Jika perubahan paradigma itu tidak dipahami, yang muncul adalah absolutisme.

Said Aqiel Siradj menegaskan, hal yang paling merusak agama adalah politik. Munculnya negara dengan identitas agama justru menyalahi konsep agama yang mengutamakan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Konflik agama yang muncul bukan disebabkan oleh ajaran agamanya, melainkan oleh kepentingan politik umat beragama. ”Di negara-negara berkembang, agama sering kali dijadikan alat untuk melegitimasi segala sesuatu,” kata Said. (MZW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: