Pengalaman Indonesia Penting bagi Eropa

May 31, 2010

DIALOG ANTARAGAMA

Kompas, Kamis, 27 Mei 2010 | 03:07 WIB

Godollo, Kompas – Sebagai bangsa yang terdiri atas beraneka ragam etnis, agama, dan budaya, Indonesia memiliki pengalaman kaya dan luas dalam dialog antarumat beragama sejak berabad-abad lampau. Pengalaman itu dapat dijadikan pelajaran bagi negara-negara Eropa yang saat ini kesulitan mengelola perbedaan mereka.

”Bagi masyarakat Indonesia, dialog antaragama adalah kebutuhan, baik kebutuhan individu maupun negara,” kata Duta Besar Indonesia untuk Hongaria, Bosnia, Kroasia, dan Macedonia, Mangasi Sihombing dalam pembukaan Dialog Antar-Iman Indonesia-Hongaria di Godollo, Hongaria, Selasa (25/5).

Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi, yang mengikuti rombongan Indonesia, melaporkan, banyaknya pengalaman praktis Indonesia dalam menjalin dialog antariman diakui mantan Duta Besar Hongaria untuk Indonesia Mihaly Illes.

Menurut dia, umat Islam di Indonesia, sebagai kelompok mayoritas, telah mampu menjalin dialog dengan kelompok-kelompok agama minoritas lainnya. Kondisi itu belum terjadi di Hongaria yang multikultur karena masyarakat Kristiani sebagai mayoritas belum mampu menjalin dialog dengan umat non-Kristiani di negara tersebut.

”Indonesia dapat menjadi contoh praktis dalam mengelola keberagaman yang juga dimiliki Hongaria,” ungkap Illes.

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, Indonesia merupakan contoh bagi perlindungan kelompok agama-agama minoritas oleh kelompok mayoritas. Meskipun mayoritas, sebagian besar umat Islam Indonesia tidak menghendaki negara yang berdasarkan ajaran agama, tetapi negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai acuan hidup bersama.

”Agama-agama di Indonesia mampu menjadi pendukung negara dan keberadaan setiap agama dilindungi oleh hukum,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia Mgr J Pujasumarta mengatakan, pluralitas agama di sebuah negara ibarat dua sisi mata uang, bisa menjadi peluang atau justru menjadi ancaman bagi harmoni hidup bersama.

Hal itu sangat bergantung pada pilihan masyarakat sendiri. Namun, belajar dari pengalaman Indonesia, dialog antariman itu merupakan sebuah keharusan.

”Jika pilihannya adalah menerima pluralitas sebagai sebuah kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik, dialog antariman perlu terus dilakukan,” ungkap Mgr Pujasumarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: