Dipersatukan oleh Cinta

September 30, 2012

Tulisan ini gue ambil dari kisah yang gue tulis untuk memperingati 100 hari kepergiaan mama, istri dan pribadi istimewa yang tinggal di daerah Cimacan, Cipanas. Pengalaman hidupnya bersama suami dan keluarga sungguh membawa inspirasi dan kekuatan bagi kita semua bahwa perbedaan bisa menjadi sumber kekuatan yang abadi.Yuk sama-sama membaca dan ikut terinspirasi bersama….

—————————————

Sinar mentari pagi hadir bersama harapan baru di sebuah desa kecil pinggiran kota Jakarta. Di sudut ruangan sebuah rumah sederhana, suara tangisan bayi perempuan menandai hadirnya sebuah kehidupan baru. Pagi itu, pada 3 Juli 1952, sosok bayi mungil lahir prematur dan memberikan kebahagiaan serta harapan kepada orang di sekelilingnya, terutama untuk pasangan Oong Tedjalaksana dan Oey Marie sebagai orang tua. Berkat Tuhan yang begitu besar sungguh dapat mereka rasakan saat itu, dan mereka memberi nama bayi mungil itu: Rica Aryanti.

Kelahiran Rica Aryanti yang merupakan buah hati pertama pada Keluarga Oong Tedjalaksana tentunya menumbuhkan kekuatan dan semangat dalam perjalanan hidup mereka. Seiring dengan waktu, bayi mungil itu kemudian menjadi putri sulung bagi delapan buah hati keluarga Oong Tedjalaksana yang telah bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah keluarga besar. Menjalani hidup dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar yang dinamis tentu memberikan pengalaman dan menumbuhkan pemahaman yang mendalam mengenai arti memimpin, berbagi dan bertoleransi. Prinsip-prinsip itulah yang kemudian kelak terlihat dominan dari pribadi seorang Rica Aryanti dalam kehidupan kesehariannya.

Walaupun Keluarga Oong Tedjalaksana dan Oey Marie tinggal di desa kecil Cimacan yang mayoritas penduduknya adalah suku Sunda, tetapi mereka masih tetap memegang teguh tradisi dan budaya leluhur Tionghoa. Pergaulan dan interaksi yang intens dengan masyarakat sekitar tempat mereka tinggal pada akhirnya menghasilkan perpaduan kultur yang indah dan membentuk kepribadian yang unik pada anak-anak di keluarga Oong Tedjalaksana. Kepribadian unik yang terbangun tersebut dicirikan dengan adanya semangat kerja keras dan pantang menyerah sebagaimana umumnya dimiliki oleh kaum perantauan Tionghoa di Indonesia dan berjalan beriringan dengan sifat ramah dan bertoleransi yang merupakan ciri khas budaya lokal.

Rica kemudian tumbuh menjadi pribadi yang mengadaptasi budaya keluarga dan lingkungan dengan amat baik. Ia menjadi pribadi yang tangguh dan hadir membawa semangat cinta yang tulus, penuh kejujuran, dengan kemauan berbagi dan bertoleransi kepada sesama. Karena baginya, dimana ia hidup dan tinggal, disitulah ia merasa menjadi bagian dan memberikan kontribusi untuk kehidupan yang lebih bermakna. Kesungguhan hati dan keseriusan itulah yang terus dibawa Rica dalam menata dan mengarungi kehidupan sebagai seorang anak sulung yang bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya.

Tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang dinamis namun memiliki kesulitan ekonomi seperti yang dialami oleh kaum kebanyakan pada masa itu tentu menjadi hal yang tidak mudah. Namun, hal tersebut juga yang pada akhirnya membentuk Rica menjadi sosol pribadi yang lebih ‘komplit’ dalam menjalani hidup. Baginya, hidup merupakan perjuangan dan harus dijalani dengan prinsip-prinsip dan kekuatan cinta, dimana cinta itu dapat diwujudkan dalam keinginan berbagi dan bertoleransi terhadap semua orang tanpa memandang ras dan agama. Rica melengkapi hidupnya dengan berpegang pada falsafah, “saat berjalan, melihatlah ke bawah dan jangan melihat ke atas”. Nilai ini menjadi kekuatan dalam hidup dimana Rica memiliki keinginan berbagi dengan menempatkan tangan dalam posisi di atas (memberi dan melakukan perbuatan kasih) bagi sesama yang sedang berada di posisi ‘bawah’ yang sedang mengalami kesulitan. Semua itu dilakukan dengan sukacita dan menjadi api penyemangat dan membuatnya selalu mencoba bersikap terbuka dan ramah kepada siapa saja.

Beberapa tahun kemudian, Rica dan keluarga me-nempati rumah baru di daerah Cimacan, Cipanas, Jawa Barat. Di daerah ini, perpaduan warna budaya pun kembali terjadi. Kali ini sebagian besar dengan budaya Sunda yang santun sekaligus ekspresif. Di kota ini pula, Rica dibaptis sebagai pengikut Kristus pada 15 Januari 1967 di Biara Santa Clara Pacet yang terletak di daerah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Ia memiliki nama Baptis Catharina, sehingga namanya kini menjadi Catharina Rica Aryanti.

Iman Katholik yang baru dipeluknya merupakan bentuk inspirasi bagi keluarga besarnya serta memberikan kebahagian sekaligus semangat untuk melakukan lebih banyak perbuatan kasih yang nyata kepada sesama. Dua tahun kemudian pada 14 September 1969, Rica menerima Sakramen Krisma (Penguatan) yang dalam iman Katholik Sakramen ini merupakan salah satu 3 Sakramen Inisiasi selain Babptis dan Ekaristi yang menjadi dasar utama seorang menerima keselamatan karena bersatu dengan Allah.Sakramen Krisma menjadi anugerah dan tanda bahwa seseorang sudah memulai tahapan kedewasaan. Semua proses yang dijalani Rica ini selalu disertai harapan untuk meningkatnya kualitas diri yang lebih baik.

Di kota ini pula, Rica menemukan belahan jiwanya. Namun, ia juga harus menjalaninya dengan tidak mudah dan harus melalui proses yang tidak sebentar. Berawal dari sebuah pertemuan, ia berkenalan dengan seorang pria yang baik hati. Pria ini bernama Endjang Sudirman, yang dilahirkan dan besar di kota dimana mereka tinggal saat itu. Endjang terlahir dari keluarga Muslim dan memiliki akar budaya Sunda yang cukup kuat. Ini ditandai dengan keluarga Endjang yang selalu memegang nilai-nilai hidup berdasarkan nilai agama dan budaya yang utuh dimana kedewasaan dalam iman, harmonisasi dengan alam dan relasi yang baik dengan masyarakat sekitar merupakan syarat utama dalam menjalani hidup.

Perkenalan dan proses pertemanan menjadi awal dari terbentuknya sebuah perasaan cinta mereka berdua. Di sinilah terjadi perpaduan dua budaya yang sesungguhnya. Simbiosis kehidupan kembali terjadi. Awalnya, ini menjadi hal yang tidak mudah. Ketika dua sisi perbedaan berjalan beriringan dan menyatu, di situ ada banyak kisah yang menyertainya. Ada bahagia, ada sedih, dan ada semangat yang semuanya hadir tersaji dalam sebuah mangkuk kehidupan untuk dikecap dan dinikmati.

Bagi sebagian orang, ini mungkin menjadi hal yang ‘tidak biasa’ dan mungkin aneh. Namun Rica dan Endjang tetap berjalan dalam kekuatan cinta yang berlandaskan niat hati yang baik. Setiap tantangan dan hambatan dilalui bersama dengan kesabaran. Walau mereka berdua memegang keyakinan agama dan budaya yang berbeda, mereka setia untuk menumbuhkan sikap saling menghargai. Mereka berkeinginan bahwa perbedaan itu memang ada dan tidak bisa dihilangkan, namun perbedaan juga bisa memberikan kekuatan yang saling melengkapi satu sama lain. Mereka berdua ingin perbedaan yang ada bisa membentuk pribadi dewasa yang mampu membina hubungan baik dan berkualitas. Dengan semangat itulah, mereka menjalani langkah demi langkah jalinan kasih mereka dengan niat dan harapan yang selalu terjaga.

Pada akhirnya, cinta mereka dipersatukan pada 15 Januari 1970 di Kantor Urusan Agama (KUA) Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Mereka berdua mengucapkan janji setia untuk menjalani hidup bersama. Mereka menyatukan hati untuk menjalani kehidupan bersama dalam keadaan bahagia, sedih, dan kemalangan. Keyakinan yang berbeda disatukan dalam bahasa kasih yang universal. Ketika tangan mereka berpegangan saat mengucapkan janji pernikahan, saat itulah, sebuah perwujudan akan bersatunya kasih dimulai.

Mereka menatap jalan kehidupan dengan kekuatan dan dengan semangat yang saling menjaga satu sama lain. Proses memberi, menerima, dan saling mengasihi sudah jelas terlukis dalam hati mereka berdua. Hari itu, Tuhan sungguh hadir dan memberikan berkat kasihNya yang luar biasa. Setelah 11 tahun berlalu, kekuatan cinta mereka diperkuat dengan mendapatkan surat nikah gereja (dispensasi dari Vatican melalui keuskupan Bogor) pada tanggal 1 April 1981 di Gereja Santa Maria Para Malaikat Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Kehidupan rumah tangga Rica dan Endjang semakin disempurnakan dengan kehadiran buah hati mereka beberapa tahun kemudian. Antonius Teddy Andriadi Sudirman, Bonaventura Weddy Bernadi Sudirman, dan Clara Paulina Christina Sudirman hadir dan berjalan bersama kedua orang tua mereka dalam balutan kasih. Semangat kebersamaan dalam perbedaan pun terus tumbuh dan makin berkembang di dalam hidup keseharian. Anak-anak merasa bahagia karena walau warna perbedaan tampak nyata hadir, semua bisa dilalui dengan penuh cinta dan kebersamaan.

Saat menjalani keseharian hidup, sikap Rica dan Endjang sungguh menjadi teladan bagi semua anak-anaknya. Mereka bisa melakukan aktivitas dan kegiatan doa dengan baik, tanpa harus merasa terganggu satu sama lain. Bahkan Rica dan Endjang saling mengingatkan dan menemani ketika salah seorang dari mereka sedang atau harus melakukan kegiatan keagamaan masing-masing. Rica kadang menemani Endjang saat harus melakukan kegiatan di masjid, dan Endjang pun sebaliknya menemani Rica saat manjalani aktivitas keagamaan di gereja. Tidak ada perasaan ragu, malu atau perasaan yang bertentangan dengan kata hati. Semua dijalani karena sebuah alasan sederhana namun tulus; menghargai perbedaan dalam kasih dan cinta.

Saat menjalanai agenda keagamaan dan merayakan hari besar agama pun demikian. Semua anggota keluarga menjalani kegiatan bersama tanpa adanya keraguan. Saat bulan Ramadhan, Rica dan Endjang serta semua putra dan putri berpuasa bersama selama 30 hari. Ketika menjalan sahur dan berbuka puasa, kebersamaan itu tetap hadir.

Begitu juga saat merayakan Idul Fitri. Mama dan anak-anak juga terlibat sepenuh hati. Mereka saling membantu dalam mempersiapkan hari Fitri bersama-sama. Tidak ada lagi batasan yang membuat semua anggota keluarga ragu untuk menjaga kebersamaan. Dan saat hari yang Fitri itu tiba, semua keluarga saling memberikan maaf dan mama papa pun memberikan cinta terbesar mereka untuk anak-anak. Saat Idul Fitri, bukan hanya papa yang merayakan dan merasakan kebahagiaan, namun seluruh keluarga menyatukan diri dalam kebahagian. Perayaan dan tradisi berbagi pada masyarakat sekitar juga diwujudkan lewat kegiatan zakat yang semuanya memiliki tujuan untuk membentuk ‘pribadi baru’ yang lebih baik dengan memberi kebahagiaan pada orang lain di hari yang suci itu.

Begitu juga saat hari raya Idul Adha tiba, semua anggota keluarga pun memiliki tradisi untuk membeli hewan kurban sebagai sarana berbagi cinta kepada sesama. Mereka lakukan ini bukan sebagai syarat yang ‘dipaksakan’, namun Rica dan anggota keluarga yang tidak merayakan Idul Adha ingin menyatu dalam peringatan kesakralan hari raya tanpa harus bersinggungan dengan ajaran dan dogma agama yang berbeda. Mereka saling memahami perbedaan, dan dengan pengertian itu mereka semua bisa saling menghargai satu sama lain; dan semua itu bukan hanya lewat kata namun sungguh diwujudkan dalam perbuatan nyata.

Saat Natal, Endjang juga ikut dalam kemeriahan dan menyatukan diri dalam perayaan kebahagiaan bersama keluarga. Walaupun berbeda secara ajaran agama, namun itu sama sekali tidak menjadi alasan utama untuk menghalangi hadirnya cinta dan kebersamaan. Rica dan anak-anak tetap bisa merayakan Natal tanpa harus merasa sungkan pada Endjang. Mereka sekeluarga duduk satu meja bersama saat menyantap hidangan, dan melakukan semua kegiatan bersama saat mempersiapkan perayaan Natal di rumah; mulai dari mencari pokok cemara untuk dipotong dan dijadikan pohon Natal, menghiasinya dengan indah, dan melengkapinya dengan patung keluarga Kudus yang semuanya selalu menghiasi rumah saat Natal tiba. Semua tangan dan hati menyatu dan menghadirkan kekuatan sehingga esensi perayaan hari besar agama sungguh hadir dan tidak kehilangan makna sedikitpun.

Ketika seluruh umat Katolik menjalani puasa dan pantang saat menjalani masa pra Paskah, Rica dan anak-anak pun menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Karena selain momen yang sangat tepat untuk menyucikan hati dan belajar menyangkal diri selama 40 hari, kegiatan pantang dan puasa ini juga bisa dijalankan dengan dukungan Endjang. Selama 40 hari, papa selalu berjalan bersama dan ikut menjalani puasa dan pantang bersama keluarga. Bagi Endjang, ini menjadi tugas utama sebagai suami dan ayah untuk mendampingi istri dan anaknya. Namun di sisi lain, Endjang juga ingin menghadirkan cinta yang sesungguhnya terutama saat anggota keluarga merayakan hari raya keagamaan yang berbeda.

Di sisi lain, Rica juga berusaha untuk meyakinkan Endjang untuk menunaikan ibadah Haji. Karena bagi umat Muslim, dengan menjalankan semua rukun Islam; dengan menyebut 2 kalimat Syahadat, mendirikan sholat 5 waktu, berpuasa, berzakat dan naik Haji, menjadi sebuah rangkaian yang menyatu dan bisa menambah keimanan; walau dengan catatan untuk rukun ke lima dilaksanakan jika memiliki kemampuan. Keinginan Rica sekaligus menjadi doa bagi Endjang untuk bisa melaksanakan ibadah Haji.

Hingga pada tahun 2010, keinginan dan doa Rica terjawab, dengan berangkatnya Endjang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Haji dengan bantuan biaya dari putranya Antonius Teddy. Bantuan ini tidak melulu soal berapa nilai materi yang dikeluarkan. Namun jauh lebih utama, adalah nilai makna yang ada, bahwa semua anggota keluarga terpanggil untuk selalu mengalirkan kasih kepada papa. Semua itu tetap dilakukan dengan cinta dan kebesaran serta kelegaan hati yang subur terpelihara.

Dengan ketegaran, kekuatan dan kebe-saran hati Endjang, Rica dan semua anak-anaknya, keluarga ini menjadi sebuah pelita yang menerangi dan menghangatkan lingkungan sekitar sekaligus menjadi aliran sungai yang jernih, dan tanpa henti menyegarkan daerah yang dilewati alirannya. Semua yang dijalani keluarga ini sungguh membawa muatan kasih di dalamnya.

Banyak hal tidak hanya diwujudkan di dalam ruang rumah yang menjadi tempat tinggal mereka, namun juga bisa dirasakan oleh banyak pribadi di lingkungan sekitar dimanapun dan dengan cara apapun. Sekali lagi, kasih memang bisa berbicara dengan banyak cara dan melebihi batas ruang dan waktu.

Semua selalu berjalan dengan rangkaian cinta yang mengalir, termasuk Semua selalu berjalan dengan rangkaian cinta yang mengalir, termasuk ketika pada 28 Mei 2012 Rica harus kembali ke Rumah Bapa di Surga. Peristiwa ini menjadi sebuah catatan yang membuat keluarga tertunduk dalam kesedihan. Kepergian Rica adalah kehilangan besar bagi Endjang, anak-anak dan keluarga besar. Bahkan banyak orang lain yang hidup di sekitar dan mengenal mereka juga merasakan hal yang sama.

Semua yang dialami bersama Rica terangkum rapi dalam hati. Namun terkadang, untuk membuka kembali susunan kisahnya muncul keraguan. Bukan karena tidak ingin lagi mengingat semua kenangan akan kebesaran dan kebaikan hati Rica, namun seringkali hanya tidak ingin kembali larut dalam tangis kesedihan dan rasa kehilangan yang dalam.

Tapi bagaimanapun, semua sudah terjadi karena kehendak Tuhan. Endjang serta semua putra-putra-putrinya merasakan kalau Rica tidak ingin semua pribadi yang ditinggalkannya larut dalam kesedihan berkepanjangan. Sosok yang selama ini mereka kenal telah meninggalkan kesan dan teladan tentang kekuatan kasih yang besar dalam hidup.Teladan inilah yang harus dilanjutkan oleh semangat dan perbuatan baik yang harus terus mengalir sepanjang waktu.

Kesederhanaan, kekuatan hati, dan semangat Rica untuk berbagi akan selalu menjadi inspirasi yang besar buat keluarga dan semua pribadi yang mengenalnya. Ia memang bukan sosok yang sempurna. Namun bagi suami, putra-putri dan semua pribadi yang mengenalnya, ia akan selalu dikenang sebagai pribadi yang istimewa.

Dan pada siang itu, ketika semua pribadi melangkahkan kaki keluar dari komplek Kuburan Kristen Paragajen di Cimacan, Cipanas, Cianjur setelah mereka mengantar dan menghadiri proses pemakaman, papa dan terutama semua anak-anaknya teringat kembali kata-kata dan pemikiran mama yang pernah diucapkan dahulu; “saat berjalan, melihatlah ke bawah dan jangan melihat ke atas”. Falsafah yang terkandung dari kalimat sederhana ini akan selalu mereka kenang selamanya…

Selamat jalan istri, mama, dan sahabat tercinta…

Terima kasih Tuhan, buat semua cinta yang telah mempersatukan kami…

Hari ini, setelah 100 hari kepergiaan mama, kami semua berdoa dan menyatukan harapan serta kekuatan untuk kebahagiaan mama di sana. Dengan begitu, mama bisa menyaksikan kami semua yang masih hidup terus berjuang dalam kasih dan akan merasakan bahwa cinta mama masih hidup bersama kami.

Di saat yang bersamaan, kami juga merayakan ulang tahun papa. Kami makin yakin bahwa ini bukan suatu kebetulan belaka. Ini juga menjadi bagian dari rencana Tuhan yang indah dan membawa banyak karunia berkah. Kami berdoa agar papa panjang umur dan selalu sehat dan bersama kami anak-anak dan keluarga besar akan selalu hidup dengan penuh rasa syukur, tulus untuk saling berbagi, dan melakukan banyak perwujudan kasih dalam kesehariaan.

Dan dalam hati kami semua, kami membayangkan mama tersenyum penuh kedamaian di sana saat melihat kami semua di sini melakukan semuanya dengan kekuatan cinta yang tiada habisnya…

Tuhan memberkati mama dan kita semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: